Kamis, 08 Juli 2010

Pengorbanan


Wahai mereka yang telah ridla Allah sebagai Rabb-nya, Islam sebagai Diennya dan Muhammad sebagai Nabi dan Rasulnya. Ketahuil, bahwasanya Allah telah menurunkan ayat dalam surat al-baqarah :
"Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepada kamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang beriman bersamanya : "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat." (QS. Al Baqarah : 214)

Harga dakwah itu amat mahal menurut firman Allah Yang Maha Benar dan Maha Agung serta menurut lisannya Rasulullaah SAW. Harga mengemban prinsip dan memindahkannya dari alam pikiran atau alam teori ke alam tatbiq (praktek) dan alam kenyataan, memerlukan banyak pengorbanan sehingga menjadi benar-benar nyata dan hidup di alam dunia.

1. HARGA DAKWAH

Dakwah tidak akan mencapai kemenangan dan keberhasilan jika dakwah tersebut tidak diiringi pengorbanan. Baik itu dakwah ardliyah (dari manusia) atau dakwah samawiyah (dari Allah). Darah, tubuh, tulang belulang, nyawa, syuhada`, itu semua adalah api yang menyalakan pertempuran, api yang menyalakan peperangan ideologi, api yang menyalakan perang pemikiran. Adapun ayat tersebut di atas memperingatkan kita kepada persoalan penting dalam gelanggang peperangan ini. Yakni bahwa tidak ada surga bagi orang yang tidak mau berkorban dan menyumbangkan sesuatu.
Apakah kamu mengira? Apakah kalian menyangka bahwa kalian akan masuk surga padahal belum merasakan seperti apa yang dirasakan orang-orang sebelum kalian. Kemudian Allah Rabbul `Izzati mengisyaratkan persoalan penting bahwasanya kamu sekalian tidaklah semulia hamba yang paling dicintaiNya, kalian tidak lebih baik dari hamba-hamba pilihanNya.
"Allah memilih utusan-utusanNya dari malaikat dan dari manusia." (QS Al Hajj : 75)
Tak ada satu manusia di bumi ini yang lebih utama daripada Muhammad SAW, kendati demikian sebagaimana firman Allah `Azza wa Jalla. "Mereka ditimpa oleh bencana (yakni peperangan), kesengsaraan (kemiskinan), kekurangan dan lain-lain yang serupa." Dan mereka digoncangkan, coba perhatikanlah diri manusia ketika mereka dalam keadaan tergoncang. Gemetar seluruh tubuhnya seakan-akan ia dilanda gempa bumi sehingga tidak mampu menguasai diri untuk tidak jatuh. Mereka digoncangkan dan goncangan itu membuat makhluk yang paling sabar di muka bumi, yakni Rasulullah SAW, berdo`a dengan penuh ketundukan kepada Allah `Azza wa Jalla, "Bilakah datangnya pertolongan Allah?"
Orang yang sabar, tawadlu`, khusyu`, Aminullah (yang dipercaya Allah) di muka bumi, yang selalu bertemu Aminus Sama` (Jibril AS) pagi dan petang, yang senantiasa dimantapkan oleh Al Qur`an sepanjang siang dan malam, masih dapat tergoncang sehingga menyeru kepada Allah dengan sepenuh hati dalam permohonannya, serta mengasingkan dirinya untuk bermunajat kepada Allah `Azza wa Jalla. Beliau berdo`a, "Bilakah pertolongan Allah itu tiba?"
"Sehingga apabila para rasul tidak mempunyai harapan lagi dan telah meyakini bahwa mereka telah didustakan datanglah kepada rasul itu pertolongan Kami." (QS Yusuf:110)
Masalah tersebut menjadikan para rasul hampir putus harapannya. Mereka tidak mempunyai harapan namun belum sampai pada putus asa, karena :
"Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah melainkan kaum yang kafir." (QS Yusuf : 87)
Mereka meyakini bahwa mereka telah didustakan. Bumi itu telah tertutup rapat di hadapan mereka dan dunia terasa sunyi di wajah mereka, bumi tidak menjanjikan seseorang yang mau mengikuti dakwah mereka, maka mereka tidak berpengharapan lagi.
"Sehingga apabila para rasul tidak mempunyai harapan lagi (tentang keimanan mereka) dan telah meyakini bahwa mereka telah didustakan, datanglah kepada Rasul itu pertolongan Kami, lalu Kami selamatkan orang-orang yang Kami kehendaki. Dan tidak dapat ditolak siksa Kami dari orang-orang yang berdosa. Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal, Al Qur`an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat." (QS Yusuf 110-111)

2. PENGORBANAN RASULULLAH SAW

Al Qur`an itu bukan hiburan dan bukan untuk kesenangan di waktu-waktu senggang, akan tetapi Al Qur`an adalah manhaj (petunjuk jalan) bagi para Da`i yang menempuh jalan dien ini sampai hari kiamat, mengikuti jejak langkah penghulu para rasul Muhammad SAW dan pemimpin semua umat manusia.
"Aku adalah pemimpin anak cucu Adam, bukan menyombong." Meskipun demikian, keadaan beliau saat ini adalah seperti yang beliau sendiri ceritakan dalam hadits shahih:
"Sungguh aku pernah disakiti karena menyampaikan risalah Allah dan tak seorangpun pernah disakiti seperti itu, aku pernah diintimidasi karena menyampaikan risalah Allah dan tak seorangpun pernah diteror seperti itu. Dan pernah pula lewat pada diriku tiga puluh hari tiga puluh malam, sementara aku dan Bilal tak ada sesuatu yang dapat dimakan kecuali sedikit makanan yang hanya dapat menutupi ketiak Bilal" (Shahih Al jami` Ash Shagir 1525)
Ketika datang pembesar Quraisy kepada Abu Thalib, meminta dia agar mencegah keponakannya menyakiti perasaan mereka, maka Abu Thalib mengirim anaknya Uqail untuk menemui Rasulullaah SAW dan mengingatkan bahwa kaum Quraisy mendesaknya agar menghentikan penghinaan terhadap mereka, maka beliau Rasulullaah SAW menjawab dengan kata-kata sebagai berikut:
"Demi Allah, aku lebih tidak mampu meninggalkan sesuatu yang aku diutus untuknya daripada seseorang di antara mereka mencoba membakar matahari dengan nyala api."
"Demi Allah, wahai paman. Sekiranya mereka dapat meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku supaya aku meninggalkan perkara ini, maka aku tidak akan meninggalkannya sampai Allah memenangkannya atau aku akan binasa karenanya." (Riwayat pertama dinyatakan hasan oleh Albani, dan merupakan penguat bagi riwayat kedua)
Urusan menyampaikan dakwah bukan merupakan sesuatu yang mudah atau perjalanan yang menyenangkan.
"Kalau yang kamu serukan kepada merek itu keuntungan yang mudah diperoleh dan perjalanan yang tidak seberapa jauh, pastilah mereka akan mengikutimu." (QS At-Taubah : 42)
Sesungguhnya jalan dakwah adalah jalan yang panjang dan sukar. Semuanya berduri, semuanya pengorbanan. Bahkan mungkin engkau meninggal dunia sedangkan engkau belum mencapai satu buahpun dari hasil pekerjaanmu.
`Abdurrahman bin `Auf menangis
`Abdurrahman bin `Auf meletakkan makanan yang lezat didepannya lalu dia menangis dan kemudian berdiri. Dia berkata: "Sungguh sahabat-sahabat kami telah meninggalkan dunia, namun mereka belum pernah melihat seperti ini. Dan sungguh dahulu. Mush`ab bin `Umair, makanannya lebih baik daripada kami, tetapi dia belum pernah melihat makanan yang sebaik ini."
Anas ra berkata: "Rasulullaah SAW telah diwafatkan oleh Allah, sedangkan beliau belum pernah menikmati daging kambing bakar."(HR Shahih Bukhari)
"Tak pernah sama sekali keluarga Muhammad makan roti dari Sya`ir (jenis gandum) sampai kenyang selama dua hari berturut-turut."
"A`isyah berkata: "Demi Allah, kami belum pernah makan korma sampai kenyang kecuali sesudah penaklukkan Khaibar."" (HR Muslim)
Apakah kalian mengira bahwa prinsip dan keimanan itu hanya merupakan mainan atau senda gurau atau kesenangan yang disampaikan seorang manusia lewat khutbah yang dihiasi dan dirangkai dengan kata-kata yang indah, atau ditulis dalam sebuah buku lalu dicetak dan kemudian disimpan di perpustakaan ????????????/
Itu sama sekali bukan jalan dari Ashabud Da`wah (penyampai dakwah) !!!!
Sesungguhnya dakwah itu selalu akan memperhitungkan bahwa generasi pertama yang menyampaikan dakwah, mereka itu adalah tumbal bagi tegaknya dakwah yang diserukan.
Ucapan Syayid Quthub
Sesungguhnya generasi pertama, mereka itu pergi sebagai api penyala buat tabligh dan sebagai bekal untuk menyampaikan kalimat yang tidak akan hidup kecuali dengan qalbu dan cucuran darah.
Sesungguhnya kalimat kita akan tetap mati seperti boneka yang tak bergerak, sampai kita mati karenanya. Maka dia / kalimat itu akan bergoncang bangkit dan hidup di antara mereka yang hidup. Setiap kalimat yang hidup, maka ia akan bersemayam di hati manusia yang hidup, sehingga hiduplah ia bersama-sama mereka yang hidup. Orang-orang yang hidup tidak akan ingin berdampingan dengan orang-orang yang mati, mereka hanya mau berdampingan dengan orang-orang yang hidup. Adapun mayat itu akan tetap di kubur di bawah tanah, walaupun ia adalah mayat orang terhormat.

3. JALAN DAKWAH

Wahai saudara-saudaraku. Jalan dakwah itu dikelilingi oleh "makaruh" (hal-hal yang tidak disukai), penuh dengan bahaya, dipenjara, dibunuh, diusir dan dibuang. Barangsiapa ingin memegang suatu prinsip atau menyampaikan dakwah, maka hendaklah itu semua sudah ada dalam perhitungannya.
Dan barangsiapa menginginkan dakwah tersebut hanyalah merupakan tamasya yang menyenangkan, kata-kata yang baik, pesta yang besar dan khutbah yagn terang dalam kalimat-kalimatnya, maka hendaklah dia menelaah kembali dokumen kehidupan para rasul dan para da`i yang menjadi pengikut mereka, sejak dien ini datang pertama kalinya sampai sekarang ini.
Berapa banyak orang-orang komunis yang mengurbankan diri mereka untuk mengadakan revolusi merah ?? Berapa lama lenin dipenjara dan dibuang? Dan betapa kagumnya kita saat ini dengan demokrasi barat ? Bagaimana undang-undang tersebut dapat menghakimi Presiden di depan mahkamah, serta memenangkan atau bahkan mengalahkan kasusnya. Undang-undang dan hakim tidak tunduk kepada seorangpun. Cukup sekiranya saya ambilkan sebuah contoh bagi anda, bekas presiden Amerika Serikat, Nixon. Ketika partai oposisi hendak mengajukan tuntutan kepadanya dengan tuduhan bahwa dia memata-matai mereka selama berlangsungnya pemilihan, maka Nixon meminta maaf atas kesalahannya dan kemudian berlindung di balik panggung sejarah karena khawatir akan terjatuh di bawah kekuasaan undang-undang.
Apakah kalian mengira bahwa undang-undang tersebut datang dengan sia-sia? Apakah kalian mengira bahwa undang-undang tersebut datang dengan tiba-tiba? Mereka memperolehnya dengan pengorbanan darah serta tulang belulang para pemikir. Telah dibunuh tiga ratus ribu orang di tangan algojo di mahkamah pemeriksaan, dan tiga puluh ribu diantaranya dibakar hidup-hidup. Mereka yang dibunuh itu ingin mengeluarkan orang-orang barat dari cengkeraman gereja yang lalim dan membebaskan mereka dari belenggunya yang kuat dan kokoh.
Telah dibunuh Bruno, dipenjara Copernicus, serta disiksa Galileo, oleh karena mereka meneriakkan prinsip mereka dengan lantang. Tatkala Bruno diajukan di depan mahkamah gereja dan kemudian dijatuhi hukuman mati, hanya karena dia mengatakan bahwa bumi itu bulat, maka Bruno berkata: "Walau bagaimanapun bumi itu tetap bulat." Walaupun terbukti bahwa bumi itu memang bulat, tetap saja dia dihukum mati.
Selama tiga abad berturut-turut, para pemikir barat berjuang. Seperti Montesqueu, John Lock, Jan Jack Rosow, John Liel, dan lain-lain. Mereka telah banyak berkorban untuk mengeluarkan umat mereka dari doktrin pendeta yang bertentangan dengan akal pikiran dan ilmu pengetahuan. Pihak gereja menggiring manusia yang membangkang ke neraka penyiksaan dengan cambuk gereja yang kuat.
Dari sinilah, dan dari sebab ketidakmampuan mereka untuk mengadakan konfrontasi dengan pihak gereja, maka mereka berusaha membebaskan orang-orang barat. Untuk itu mereka menyeru orang-orang untuk mengingkari tuhan gerej dengan tujuan merobohkan gereja dan tiraninya yang bernama Paus.
Dua Revolusi Besar
Demokrasi yang dinikmati bangsa-bangsa barat sekarang ini bukan terjadi secara kebetulan saja, dan bukan hasil dari orang-orang yang mau berkorban. Dijalan apa ??? Mereka berkorban untuk menegakkan pemikiran mereka. Mereka tidak berambisi untuk mendapatkan surga, dan juga tidak takut terhadap neraka. Bahkan karena dahsyatnya derita yang mereka alami dari penguasa gereja, maka pada saat mereka menang dalam dua revolusi besar di negeri barat (bangsa barat telah bersepakat bahwa dua revolusi Bolsyoviya tahun 1917 M) mereka membuat syi`ar, Gantung raja terakhir dengan usus Paus terakhir. Maksudnya adalah, Sikatlah habis agama-agama dan raja-raja di bumi, karena mereka membahayakan manusia dan menghancurkan kemanusiaan. Belahlah perut Paus terakhir dan gantunglah raja terakhir dengan usus Paus. Ini adalah syi`ar dalam revolusi Perancis. Adapun syi`ar dalam revolusi Bolsyoviya yang melarikan diri dari gereja dan kediktatoran kaisar adalah "Tidak ada Tuhan dan hidup adalah materi." Mereka tidak mengingkari wujud Allah, Darwin mungkin Marxis menurut apa yang telah saya telaah tidak meningkari wujud Allah, akan tetapi mereka meningkarinya karena hendak menghancurkan gereja yang menyiksa manusia dengan ayunan cambuknya. Mereka lari dari penguasa gereja. Maka setelah itu timbullah atheisme di negeri barat dan menyebar ke dunia.
Saya ingin mengatakan kepada kalian : "Tidak mungkin suatu prinsip itu bisa menang tanpa pengorbanan dan tanpa cucuran darah. Pernah orang-orang komunis di dunia Arab, yakni di Yordania, dijatuhi hukuman mati oleh hakim pada tahun 1954. Halim mengetuk palu dan memutuskan : "Mahkamah telah menjatuhi hukuman kepada saudara berupa kurungan penjara selama lima belas tahun." Maka dia berkata lantang: "Hidup Rusia!!!! Hidup Lenin!!!!""
Maka apakah kalian mengira bahwa kalian dapat mempertahankan negara kalian yang lemah itu selama sepuluh tahun atau lima belas tahun ? Para komunis itu adalah pengikut suatu prinsip yang tidak berharap kepada Allah, tidak mengenal Allah. Dunia mereka dan akhirat mereka adalah dunia mereka, jadi tidak ada akhirat buat mereka. Kendati demikian mereka berani berkorban demi keyakinan dan prinsip mereka.

4. TELADAN DARI MEREKA YANG MELANGKAH DI JALAN DAKWAH

Dakwah islamiyah telah menyumbangkan keteladanan yang tiada bandingannya. Telah banyak berkorban putra-putra Islam di atas jalan ini sepanjang sejarah. Darah mereka menjadi api obor bagi generasi-generasi yang datang sesudah mereka. Jika Hasan Albana telah dibunuh di jalan protokol terbesar di kota Qahirah, yakni di lapangan Ramses, dan kemudian dihabisi nyawanya di kamar bedah rumah sakit. Tidak ada yang menshalati jenazahnya selain empat orang perempuan saja. Namun darahnya telah menghidupkan generasi-generasi sesudahnya di bumi ini.
Jika Abdul Qadir Audah, Muhammad Farghali, Yusuf Thal`at, Hamdawi Dawir, Ibrahim Thayyib, Mahmud Lathif, Sayyid Quthub, Abdul Fattah Isma`il, Muhammad Yusuf Hawwasy, Shaleh Sirriyah dan karim Al Anadluli serta yang lain dapat mereka bunuh, namun darah mereka tidak hilang sia-sia. Darah mereka laksana api yang menggelegarkan dada-dada generasi Islam yang berusaha untuk menegakkan Dien Allah.
Mengikuti jalan mereka sebelumnya Al Qassam, Sallamah dan Al `Izzu bin `Abdussalam serta yang lainny. Mereka telah menerangi kita dengan nyala api untuk kita pegang dalam melangkah di atas jalan dakwah. Darah-darah mereka merupakan menara petunjuk bagi generasi-generasi yang mau mencari petunjuk.
Hamidah Quthub pernah bercerita kepadaku. Katanya: "Pada tanggal 28 Agustus 1966, Hamzah Basiyuni, Direktur penjara memanggilku. Lalu dia memperlihatkan keputusan hukuman mati bagi Sayyid Quthub, Hawwasy dan Abdul Fattah Isma`il, kepadaku. Lantas dia mengatakan: "Kita masih punya kesempatan terakhir untuk menyelamatkan Ustadz (Sayyid Quthub), yakni dia harus minta maaf. Dia akan diringankan dari hukuman mati, dan sesudah enam bulan dia akan keluar dari penjara dalam keadaan sehat wal afiat. Kalau dia jadi dibunuh, maka demikian itu akan berarti suatu kerugian bagi seluruh dunia. Pergi dan bujuklah dia supaya mau minta maaf.""
Hamidah menyambung : "Lalu aku pergi menemuinya di penjara. Sampai disana kukatakan kepadanya. Sesungguhnya mereka mengatakan jika engkau minta maaf maka mereka akan meringankan hukuman mati mu." Maka dia menjawab: "Atas kesalahan apa aku harus minta maaf wahai Hamidah, apakah karena aku beramal di pihak RAbbul `Izzati? Demi Allah, sekiranya aku bekerja untuk pihak lain selain Allah tentu aku akan minta maaf. Akan tetapi sekali-kali aku tidak akan minta maaf karena beramal di pihak Allah. Tenanglah wahai Hamidah, sekiranya umur belum waktunya habis maka hukum mati itu tidak akan jadi dilaksanakan. Tidak berguna sama sekali maaf itu untuk mempercepat ajal atau mengakhirinya."
Itulah jiwa yang dipoleh iman !! Kekuatan macam apa ini !! Keteguhan hati macam apa ini !! Tali gantungan nampak di depan matanya, namun dia masih sempat menenangkan hati yang hidup atas Qudratullah dan qadarNya.
Basyir Al Ibrahim mengatakan : "Pernah suatu ketika, aku berada di dekat raja Faruq ( raja Mesir waktu itu ). Aku mendengar mereka tengah berbisik-bisik tentang rencana pembunuhan Hasan Albana. Maka aku segera pergi menemui Hasan Albana dan kukatakan padanya :"
"Sesungguhnya pembesar negeri ini sedang berunding tentang kamu untuk membunuhmu, sebab itu keluarlah (dari kota ini) sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang memberi nasihat kepadamu." (QS Al Qashash : 20)
Maka dia menjawab : "Apakah engkau berfikir begitu (dia ulang tiga kali), ketahuilah:
"Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu." (QS Ath-Thalaq)
Sesungguhnya kalau kematian sudah menjadi ketentuan Allah, maka kewaspadaan itu tidak akan dapat menyelamatkan."

5. CONTOH KEPAHLAWANAN DARI AFGHANISTAN

Kita sekarang bersama bangsa Afghan yang telah memberi banyak contoh tentang kepahlawanan. Suatu kepahlawanan yang belum pernah terjadi dalam lembaran tarikh islam selama lima abad terakhir ini. Sesungguhnya pengorbanan yang telah diberikan bangsa Afghan, secara keseluruhan tidak dapat disamakan dengan jihad dan perang bangsa-bangsa Islam pada abad-abad terakhir ini.
Saya belum pernah melihat kesabaran yang melebihi kesabaran mereka. Saya tidak pernah melihat bangsa yang lebih perkasa daripada jiwa mereka. Dan saya tidak pernah melihat bangsa muslim mukmin seperti mereka, yang tidak mau menundukkan kepala mereka kecuali kepada Rabbnya bumi dan langit.
Mereka tidak mempunyai persediaan makanan untuk kehidupan sehari-hari. Ada orang Arab yang kaya meminang anak gadis mereka. Namun mereka menolak menikahkan anak gadis mereka, khawatir hal itu mencemarkan harga diri mereka. Sehingga jangan sampai ada yang mengatakan bahwa mereka menikahkan anak gadisnya pada masa kesulitan kepada orang-orang kaya.
Mereka mengisahkan kepada saya tentang seorang perempuan dari Propinsi Kandahar. Mereka mengatakan bahwa perempuan tua tersebut datang kepada Mujahidin dan melapor : "Sesungguhnya anak lelakiku berkomplot bersama pemerintah komunis untuk menyerang kalian. Dia pergi ke Kandahar untuk menunjukkan tempat berlindung kalian dan kamp-kamp kalian. Karena itu susul dan tangkaplah dia!"
Kemudian mujahidin mengejar anak perempuan tua tersebut dan berhasil menangkapnya. Setelah itu mereka bawa ke markas dan kemudian mereka kirimkan lelaki tersebut kepada ibunya. Mujahidin berkata: "Ini anak lelakimu, lalu apa yang harus kami perbuat dengannya?" "Ikatlah kedua kaki dan lengannya dan beri aku pisau yang tajam." Jawabny. Maka mereka memberi dia, mereka memberi sebuah pisau. Kemudian perempuan tua itu berkata kepada anak lelakinya : "Ingatlah kamu pada hari di masa engkau mencaci Rasulullaah SAW di depanku? Maka saat ini saya akan membalas dendam bagi Rasulullaah SAW terhadapmu wahai kafir !!" Kemudian dia menyembelih anak lelakinya dengan tangan sendiri.
Belum pernah kudengar, belum pernah kudengar dalam sejarah bahwa seorang perempuan tega membunuh anaknya demi menegakkan prinsipnya. Kita telah mendengar tentang para sahabat (Semoga Allah meridlai mereka semua) bahwa mereka membunuh ayah mereka sendiri. Akan tetapi kita belum pernah mendengar ada seorang perempuan yang membunuh anaknya dengan tangannya.
Beberapa hari yang lalu datang tiga puluh wanita dari sebuah desa di Afghanistan. Rusia tidak menyisakan penduduknya kecuali tiga puluh wanita ini. Yang lainnya, mereka bantai habis. Di sebuah desa Propinsi Logar, kaum komunis Afghan menyembelih empat puluh tiga orang yang terdiri para lelaki jompo, ulama, kaum wanita, dan anak-anak, kemudian jenazah tersebut mereka tuangi minyak tanah dan kemudian mereka bakar pada hari Iedhul Adha atau beberapa hari sebelumnya. Dalam pembantaian itu ada anak laki-laki berusia dua belas tahun bersembunyi di bawah tempat tidur. Orang-orang rusia masuk ke dalam rumah dan menggeledah isi dalamnya. Secara kebetulah mereka mendapati mushaf al qur`an, lantas Mushhaf tersebut dibanting dengan keras sebagai penghinaan atasnya. Tiba-tiba anak yang bersembunyi tadi bergerak dari bawah tempat tidur dan keluar ke depan Rusi yang membanting tadi dan memegang erat Mushhaf tersebut diantara kedua tangannya. Lantas dia berkata: "Ini adalah kitab Rabb kami, kitab ini adalah kemuliaan kami dan syi`ar kami.: "Buang kitab itu!" Perintah Syethan tersebut. Maka dia menjawab: "Meski engkau potong-potong diriku, demi Allah aku tidak akan melepaskannya dari tanganku." Karena penghormatan anak tersebut kepada agama ini, maka si Rusia pun menghormati anak tersebut. Lantas dia sembelih semua yang ada di rumah dan membiarkan anak tersebut tetap hidup."
Kita membicarakan orang-orang Afghan, mengenai yang negatif-negatif serta yang jelek-jelek saja. Adapun kemuliaan-kemuliaan mereka dan kelebihan-kelebihannya kita kesampingkan begitu saja. Kita tidak berbicara kecuali tentang perselisihan yang terjadi di Peshawar, kita tidak berbicara kecuali tentang perselisihan si Fulan dengan si Fulan. Si Fulan mengambil sekian, dan si Fulan berdusta dalam hal demikian. Masuklah kalian ke dalam medan pertempuran dan lihatlah apa yang sedang dilakukan mujahidin? Kemudian setelah itu putuskanlah, apakah kalian mampu hidup sebulan saja sebagaimana kehidupan mereka? Sesungguhnya kalian tidak mampu mengerjakan yang demikian itu.
Betapa banyak rumah tangga yang tidak tersisa didalamnya kecuali seorang anak kecil saja. Ibu-ibu dibunuh, bapak-bapak dibunuh, pemuda-pemudi disembelih dan yang lain hilang di bawah reruntuhan tanah akibat bombardir pesawat tempur musuh. Perkara-perkara ini tidak disebarkan beritanya di dunia Islam, akan tetapi justru perselisihan yang terjadi antara dua atau tiga orang yang hidup di Peshawar lah yang banyak disebarkan. Padahal Mujahidin meninggalkan lembaran-lembaran sejarah yang bersinar. Lembaran yang membuat sejarah umat manusia dengan pengorbanan darah, nyawa dan tulang belulang.
Saya nasehatkan kepada kalian, sekali lagi saya nasehatkan kepada kalian. Jika kalian ingin turut andil bersaham dengan saha, bagi kita, fardlu ain bagi setiap muslim di muka bumi sekarang ini untuk mengangkat senjata melawan penguasa-penguasa lalim di muka bumi, fardlu ain bagi setiap muslim di muka bumi ini untuk berdiri di sisi orang-orang Afghan. Jika engkau tidak mengangkat senjata di Afghan, maka berperanglah di lain tempat. Tidak ada alasan bagi seseorang, seperti ucapan Abu Thalhah ra : "Allah tidak mau mendengar udzur seseorang."
Saya nasehatkan kepada kamu sekalian jika ingin berkhidmat untuk jihad Afghan, maka :
Pertama : Janganlah kalian mentransfer perpecahan kalian dan perselisihan kalian di dunia Arab ke bumi Afghan. Cukuplah mereka menghadapi musibah, problema-problema serta perselisihan diantara mereka sendiri. Tanah ini adalah bukan tanah kita, dan kawasan ini bukan kawasan kita. Saya mengira bahwa hati kalian menyukai membantu jihad Afghan, maka hendaklah kita mengangkat tinggi syi`ar ini, dan hendaknya kita semua menyatukan pandangan di atas syi`ar tersebut, yakni "BERKHIDMAT KEPADA JIHAD". Adapun perselisihan kecil diantara kita, yakni khilaf dalam cabang-cabang fiqh (masalah furu`iyah) atau perselisihan dalam hal cara pengalaman, apakah diambil dari madzhab ini atau dari madzhab itu, maka perkara-perkara ini harus dikesampingkan di medan perang ini.
Apakah kita menggerakkan ujung jari kita (dalam duduk tahiyyat) atau tidak, mengangkat tangan sesudah takbir ketika hendak ruku` dan sesudah ruku` dan ketika mau sujud atau tidak. Mengeraskan bacaan amin atau tidak. Si Fulan berasal dari tanzhim pimpinan Islam yang baik atau tidak, si Fulan dari negeri Arab sebagai imam atau individu.
Buanglah ini jauh-jauh dan kesampingkanlah. Sudah cukup penderitaan dan problema yang ada di medan ini, jangan kita tambah dengan keruwetan-keruwetan yang lain. Dan hendaknya kita semua bertemu untuk saling tolong-menolong di atas perkara yang telah sama-sama kita sepakati. Kita sepakat bahwa kedatangan kita kesini untuk membantu jihad, untuk saling tolong-menolong dalam rangka berkhidmat kepada jihad. Maka dari itu, hendaklah kita perlu saling memaklumi terhadap obyek perselisihan. Janganlah kalian saling berbisik-bisik, saling intip-mengintip, saling kerjap mengerjap, janganlah kalian saling berbicara rahasia.
"Sesungguhnya pembicaraan rahasia itu adalah dari syaithan, supaya orang-orang beriman itu berduka cita" (QS 58:10)
Semua orang yang sampai ke tempat ini, lebih dari sembilan persepuluhnya datang dengan niat dan motif yang baik. Datang untuk turut serta dalam jihad. Dan sebagian mereka tidak dapat datang karena terputusnya jalan (tak punya biaya). Masalah dunia terbentang luas di hadapan mereka. Disamping itu, mereka dinegerinya atau di negeri mahjar sekalipun hidup serba kecukupan dan terhormat. Bekerja sebagai pegawai atau belajar di perguruan-perguruan. Mereka tinggalkan itu semua dan datang untuk berkhidmat kepada jihad. Inilah yang menjadi dasar pernilaian saya dan saya tidak peduli dengan kekeliruan mereka sepanjang masih dapat ditoleransi.
"Tiadalah Rasulullaah SAW mengumpulkan manusia yang rela berkorban demi membela dien ini melainkan dengan mizan kebaikan dan kesalahan. "Tidakkah engkau tau wahai `Umar bahwa dia ikut serta dalam peperangan Badar. Boleh jadi Allah telah melihat (hati) para ahli Badar, lalu Dia berfirman: "Lakukanlah sekehendak kamu, sesungguhnya Aku telah memberikan ampuanbagimu"(HR Shahih Bukhari - cuplikan).
Ketika diketahui bahwa Ibnu Abu Balta`ah mengirim surat kepada kaum musyrikin Quraisy tentang rencana Nabi SAW menyerang mereka maka `Umar bangkit dari tempat duduknya dan berkata lantang: "Izinkanlah saya ya Rasulullaah, memenggal leher orang ini. Sungguh dia telah nifak," Sabda beliau: "Tidakkah engkau tahu hai `Umar bahwa dia ikut serta dalam perang Badar?" Sungguh Rasulullaah SAW telah memilih amal terbaik dari sahabat ini sebagai dasar pertimbangan untuk meredam gejolak kemarahan dalam hati `Umar dan para sahabat.
Para sahabat telah telah menyebar kemana-mana, dan semua orang yang mengikuti tidak berselisih dengan pengikut yang lain. Semua membawa riwayat dari riwayat-riwayat Al Qur`an dan huruf dari huruf-hurufnya (dialek dalam alQur`an), kendati demikian semuanya ikut serta perang Yarmuk, dan dalam penaklukan negeri yang kita injak ini (Afghanistan). Semuanya, para pengikut Hudzaifah, penduduk Syam, pengikut Al Auza`i, penduduk Kufah dan penduduk Bashrah, semuanya dengan qira`at mereka yang berbeda-beda, dengan imam yang berbeda, semuanya satu pasukan di bawah satu qiyadah dan bertemu dalam satu tujuan, yakni berperang untuk meninggikan kalimatullah. Untuk itu marilah kita tinggikan syi`ar. Sesungguhnya kita datang untuk berkhidmat kepada jihad.
Sementara kita ini, setelah tinggal di Peshawar seminggu atau dua minggu berubah menjadi seorang pengamat politik dan ahli kemasyarakatan, memutuskan hukum begini, mengeluarkan fatwa begitu, menjatuhkan si anu, memperingatkan orang dari perbuatan si anu, namun sampai sekarang, belum satupun peluru yang dia bidikkan di jalan Allah `Azza wa Jalla. Dan dia tidak tahu bahwa orang yang dia lihat didepannya itu telah menapak di atas jalan yang penuh kepedihan, darah, dan air mata selama belasan tahun.
Marilah kita beretmu di dalam syi`ar "Kami ingin berkhidmat kepada Jihad.", dan marilah kita bertemu dalam syi`ar lain "Meninggalkan perselisihan", tolong-menolong dalam masalah pokok dan meninggalkan perselisihan dalam masalah furu`iyah. Kita semua datang untuk berkhidmat kepada dien ini dan keluar dari negerinya berhijrah kepada Allah `Azza wa Jallah.
"Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan RasulNya, kemudian kematian menimpanya, maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah."
Hatta seandainya kamu tidak mati dalam peperangan, asal kamu keluar berhijrah di jalan Allah, dan kamu mati di Peshawar, maka pahalamu telah tetap di sisi Allah. Maka dari itu janganlah kamu hapus pahala yang engkau dapat dengan memakan daging manusia, karena daging manusia itu beracun menurut kata-kata Ibnu `Asakir. Untuk itu jangan sampai engkau bertemu Allah, sedangkan lisanmu menetaskan darah dari darah manusia yang engkau hisap. Jangan sampai engkau bertemu Allah, sementara daging saudara-saudaramu berada di antara kedua gigimu. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW dalam suatu riwayat, ada disebutkan dalam atsar. "Demi Allah, sesungguhnya aku melihat dagingnya berada di antara kedua gigi depan kalian berdua." Yakni ketika dua orang sahabat mengatakan sesungguhnya hamba in celaan, lalu beliau bersabda: "Sungguh kalian berdua telah makan daging sahabat kalian. Dan sesungguhnya aku, demi Allah, melihat dagingnya berada di antara kedua gigi depan kalian."
Kedua: Kita bertemu untuk berkhidmat kepada jihad. Dan masing-masing bekerja dibidangnya sendiri-sendiri. Masing-masing dimudahkan untuk beramal sesuai dengan apa yang telah ditentukan baginya. Sebagaimana kalian semua tidak membuat penilaian atas penguasa di negeri kalian (dan tidaklah penguasa di negeri kalian itu lebih baik dari para pemimpin jihad), maka yang demikian itu tidak selayaknya kita menilai pemimpin jihad tersebut dengan pengamatan dan wawasan politik kita.
Ketiga: Kita bermaksud memperhitungkan kebaikan kaum dan meninggalkan hal-hal yang buruk. Kita bermaksud mengambil hal-hal positif yang membangkitkan harapan dalam hati. Dan betapa banyaknya hal-hal yang positip itu, dan betapa sedikitnya hal-hal yang negatif itu. Maka janganlah kalian sibuk menghitung-hitung aib kaum muslimin.
"Wahai segenap orang yang hanya beriman di bibir, sedangkan iman belum merasuk ke dalam hatinya. Janganlah kamu sekalian menggunjing kaum muslimin dan jangan pula mencari-cari aurat saudaranya muslim. Karena sesungguhnya barangsiapa mencari-cari aurat saudaranya muslim, maka Dia akan menelanjangi auratnya itu meski di dalam rumahnya sendiri." (Shahih Al Jami` Ash Shaghir 7984)
Jangan sampai kaliam berbuat sesuatu yang menjadikan Allah mempunyai alasan yang nyata untuk mencari-cari aurat kalian dan membuka aib kalian serta menelanjangi dan membuat malu kalian meskipun di dalam rumah kalian sendiri.
Tiga point, yang kita bertemu, bersepakat dan tolong-menolong atasnya: Pertama, kita lupakan perpecahan dan perselisihan kita di dunia Arab, dan kita campakkan perpecahan dan perselisihan itu di bumi Afghan ini. Kedua, kita datang untuk salilng tolong-menolong dalam jihad dan saling memaafkan terhadap apa yang menjadi perselisihan kita. Ketiga, menyebarkan hal-hal yang positif dan yang baik serta berdiam diri dari aib dan hal-hal yang buruk. Dan jangan memalingkan manusia dari jalan Allah. Sesungguhnya kebanyakan manusia benar-benar hendak menyesatkan orang lain dengan nafsu mereka.
"Dan sesungguhnya ada ucapan yang keluar dari mulut seseorang tanpa disadarinya, bahwa karena ucapannya itu ia terperosok ke dalam neraka jahanam." (HR Bukhari)
Berapa banyak pemuda yang datang ke sini dengan penuh semangat untuk berjihad, kemudian kalian palingkan dia dari jalan Allah dengan ucapan kalian? Berapa banyak pemuda yang sampai di bumi Afghan, kemudian mereka kembali ke negerinya dengan rasa sesal lantaran banyaknya apa yang kalian tanamkan dalam hati mereka berupa keburukan-keburukan yang telah kalian hafal, kalian kumpulkan, dan tak sedikitpun darinya yang kau lupakan! kamu sekalian menyangka dengan perbuatan itu telah berbuat kebaikan memalingkan manusia dari jalan Allah dan menyesatkan mereka. Sibukkanlah diri kalian dengan sesuatu yang bermanfaat bagi kalian.
"Apabila Allah menghendaki kebaikan kepada suatu kaum, maka Dia ilhamkan kepada mereka untuk beramal."
"Dan tiada tersesat suatu kaum yang telah mendapatkan petunjuk kecuali sesudah mereka saling debat mendebat" (Shahih Al Jami` Ash Shaghir 5633)
Saya cukupkan sekian dulu, saya mohon kepada Allah semoga mengampuniku dan mengampunimu. Wahai hamba-hamba Allah, beristigfarlah kamu sekalian kepada Allah.
Dinukil dari : Tarbiyah Jihadiyah 1, al alaq Pustaka


JIKA KITA LEMAH

A. Apa Yang Harus Kita Lakukan Ketika Tidak Mempunyai Kemampuan Untuk Melaksanakan Jihad

Jelaslah sudah bahwa jihad adalah kewajiban yang tidak bisa dibantah lagi. Jihad menjadi sebuah kewajiban aini’ dibanyak keadaan sebagaimana sebagaimana yang dijelaskan oleh para ahli ilmu. Kewajiban jihad tidak dapat dirubah dan diganti dengan dipolitisir oleh pemikiran, hawa nafsu ataulah dengan alasan Istihsan, karena andaikan saja ada metode yang lebih mulia dan lebih baik dari jihad, pembuat syar’I pasti akan mengajarkannya kepada kita yang hal itu akan lebih dahulu dikerjakan oleh para sahabat ra. Dan begitulah hukum Islam telah menetapkan bahwa jihad fisabilillah dan memerangi orang-orang musyrik merupakan kewajiban aini’ di beberapa kondisi dan menjadi kewajib kifa’i di kondisi lain. Dan kewajiban jihad ini adalah merupakan salah satu bentuk ibadah kita kepada Alloh yang terbesar sehingga tidaklah layak seorang hamba yang serba terbatas mencari-cari pilihan lain dengan alasan kemaslahatan, istihsan atau yang lainnya.




Memang benar bahwa jihad merupakan sebuah hukum syar’I sebagaimana hukum-hukum syar’I yang lainnya, yang dalam pelaksanannya disesuaikan dengan kemampuan dan kekuatan. Maka oleh sebab itulah Sang Pembuat syari’atpun juga memerintahkan agar membangun sebuah kekuatan dan kemampun untuk pelaksanaan jihad, yaitu I’dad. Maka jelas fardhiyah jihad tidak dapat dibantah. Adapun bila tidak mampu melaksanakannya dikarenakan keadaan lemah, maka wajib melaksanakan I’dad. Dan bila I’dadpun tidak bisa melaksanakannya, maka wajib baginya I’tizal (mengasingkan diri) sebagaimana hadits "فاعتزل تلك الفرق كلها " -jauhilah semua firqoh-firqoh-.
Dengan demikian tidak ada jawaban lain kalau ada orang yang bertanya-tanya, apa yang akan kita lakukan agar sampai kepada kemulyaan Islam dan kekuasaan diatas muka bumi dalam kondisi seperti apa yang kita hadapi sekarang ini??? Tidak ada jawaban yang lain yang datang dari Al-Kitab dan As-Sunnah selain: I’dad kemudian Jihad. Sebagaimana yang terangkum dalam perkataan Ibnu Taimiyyah:
وكما يجب الاستعداد للجهاد, بإعداد القوة والرباط الخيل في وقت سقوطه للعجز فإن ما لايتم الواجب إلا به فهو واجب.
"Dan sebagaimana wajibnya mempersiapkan kekuatan untuk berjihad dengan persiapan kekuatan dan menambatkan kuda dikala jihad tidak dikerjakan karena lemah, maka sesungguhnya sesuatu yang tidak bisa sempurna kecuali dengannya, maka sesuatu tersebut menjadi wajib."
Dan inilah yang menjadikan pembeda antara orang beriman dan orang munafiq sebagaimana yang dikatakan oleh Abdul Qodir bin Abdul Aziz dalam muqoddimah kitabnya Al-‘Umdah fii I’dadil ‘Uddah bersarkan firman Alloh:
وَلَوْ أَرَادُوا الْخُرُوجَ لأَعَدُّوا لَهُ عُدَّةً وَلَكِنْ كَرِهَ اللَّهُ انْبِعَاثَهُمْ فَثَبَّطَهُمْ وَقِيلَ اقْعُدُوا مَعَ الْقَاعِدِين
“Dan jika mereka mau berangkat, tentulah mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu, tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka, maka Allah melemahkan keinginan mereka, dan dikatakan kepada mereka:"Tinggallah kamu bersama orang-oang yang tinggal itu". (At-Taubah:46)
Sesungguhnya ketika kita katakan bahwa jihad itu adalah satu-satunya jalan meraih kemenangan dan kemuliaan, hal itu bukan berarti meremehkan wasilah-wasilah lainnya seperti dakwah, tarbiyah dan tazkiyatunnafs serta mendidiknya sepaya berakhlaq dedngan akhlaq Islam, perhatian terhadap belajar dan mengajar ‘ilmu syar’I serta berusaha untuk mewujudkan sebuah kelompok yang mempunyai nilai yang cukup tinggi baik akhlaq maupun keyakinan dan juga hal-hal syar’I lainnya yang membantu terwujudnya perkumpulan Islami yang bersih .………… ini adalah masala-masalah penting bagi setiap umat yang menginginkan kebangkitan. Dan ini termasuk dari pengertian I’dad secara luas. Sebagaimana yang akan kami uraikan di bawah insya’alloh.
Dan begitu pula ketika kami katakan bahwa jihad itu afdlolul a’mal, maksudnya adalah secara umum sebagai mana yang disebutkan dalam nas-nas yang jelas. Artinya mungkin dalam keadaan tertentu, bagi sebagian orang jihad bukanlah sesuatu yang terbaik baginya. Diantaranya adalah ketika jihad fardlu kifayah, atau jihad tidak wajib baginnya karena tidak tepenuhi pada dirinya syarat wajibnya, dalam keadaan seperti ini mungkin I’dad lebih utama baginya. Begitu pula jika dalam waktu yang sama dakwah fardlu ‘ain baginya. Maka dalam keadaan seperti ini dakwah baginya adalah lebih utama. Begitu pula halnya dengan amar ma’ruf, amalan ini bisa menjadi lebih utama dari pada jihad dalam keadaan-keadaan tertentu. Oleh karena itu Imam Ibnu Hajar berkata,
وكأن المراد بالمؤمن من قام بما تعين عليه ثم حصَّل هذه الفضيلة وليس المراد من اقتصر على الجهاد وأهمل الواجبات العينية وحينئذ يظهر فضل المجاهد لما فيه من بذل نفسه وماله لله تعالى ولما فيه من النفع المتعدي
"Dan seakan-akan maknanya adalah bahwa seorang mukmin yang melaksanakan hal yang fardhu 'ain atasnya lalu ia mendapatkan keutamaan ini (jihad), bukan atas orang yang melaksanakan jihad saja dan melalaikan kewajiban-kewajiban 'ain lainnya. Ketika itulah terlihat keutamaan mujahid karena ia telah mencurahkan nyawa dan hartanya untuk Allah semata, juga karena jihadnya merupakan manfaat yang mengenai orang lain." Juga Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata:
فتارة تكون المصلحة الشرعية القتال, وتارة تكون المصلحة المهادنة, وتارة تكون المصلحة الإمساك والإستعداد بلا مهادنة.
"Kadang-kadang maslahat syar'i dapat dicapai dengan qital (perang), kadang-kadang dengan perdamaian, dilain waktu maslahat dapat dicapai dengan menahan diri tanpa qital (perang) dan I'dad tanpa perdamaian".

Masyru'iyah I’dad
Pertama kali dalil atas wajibnya I’dad adalah dalil-dalil atas wajibnya jihad itu sendiri. Karena jihad itu tidak tidak bisa dilaksanakan kecuali dengan kemampuan yang memadai, maka ketika kita tidak mampu melaksanakan jihad lantaran tidak mempunyai kekuatan yang memadai untuk melawan musuh, maka I’dad menjadi kewajiban pula sebagaimana yang dikatakan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah:
وكما يجب الاستعداد للجهاد, بإعداد القوة والرباط الخيل في وقت سقوطه للعجز فإن ما لايتم الواجب إلا به فهو واجب.
"Dan sebagaimana wajibnya mempersiapkan kekuatan untuk berjihad dengan persiapan kekuatan dan menambatkan kuda dikala kondisi kalah karena lemah, maka sesungguhnya sesuatu yang tidak bisa sempurna kecuali dengannya, maka sesuatu tersebut menjadi wajib."
وأعدوا لهم ماستطعتم من قوة و من رباط الخيل
“Dan persiapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kalian sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang……” (QS. Al Anfal : 60)
ولو أرادوا الخروج لأعدوا له عدة
"Dan seandainya mereka mau berangkat, tentulah mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu.” (QS. At Taubah : 46)
Imam Al Qurtubi menafsirkan ayat 60 surat Al Anfal sebagai berikut:
“Allah memerintahkan kepada orang-orang mukmin untuk mempersiapkan kekuatan untuk menghadapi musuh setelah menekankan masalah taqwa, karena seandainya Allah menginginkan tentulah orang-orang kafir itu akan dihancurkan dengan kata-kata atau dengan lemparan kerikil di wajah mereka atau bahkan taburan pasir sebagaimana yang dikerjakan oleh Nabi Saw.akan tetapi Allah hendak menguji sebagian manusia dengan yang lainya dengan taqdir dan qodho'Nya. Dan setiap apa yang engkau persiapkan untuk temanmu berupa kebaikan atau bagi musuhmu berupa kejelekan maka itu termasuk dari I’dadmu.”
Syaikh Abdullah Azzam menjelaskan:"Adapun I'dad itu adalah rantai kedua dari rantai-rantai jihad, dan dia merupakan perkara penting dari perkara-perkara yang penting, dan ia diibaratkan wudhu dalam ibadah sholat, kalau sholat itu tidak dianggap sah tanpa wudhu maka demikian juga halnya tidak ada jihad tanpa I'dad

Hukum I'dad Hari Ini
Abdul Mun’im mengatakan:” Dan I’dad – dengan pengertiannya yang luas – secara hukum syar’I hukumnya adalah wajib ‘aini kepada seluruh umat Islam baik indifidu maupun secara jama’ah, masing-masing sesuai dengan kemampuannya, karena Alloh tidaklah membebani seseorang kecuali yang ia mampu kerjakan walaupun sedikit kadar dan bentuknya. Sesungguhnya sedikit itu kalau digabungkan antara satu dan lainnya akan menjadi banyak dan kuat dan berarti.
Syaikh Abu Qotadah pernah ditanya tentang hukum I’dad askari apakah hukumnya fardlu ‘ain bagi orang yang mampu. Beliau menjawab:”Saudaraku yang baik, ketahuilah bahwa jihad hari ini hukumnya adalah fardlu ‘ain bagi setiap muslim yang mampu. Maka jihad melawan orang-orang Yahudi hukumnya adalah fardlu ‘ain begitu pula jihad melawan para thoghut Arab maupun Ajam yang telah mengganti hukum syari’at, menghalalkan apa-apa yang telah diharamkan, membantu musuh-musuh Alloh dan membunuh orang-orang Islam lantaran mereka berpegang dengan agamanya. Harus diketahui bahwa jihad melawan mereka hukumnya adalah fardlu ‘ain. Maka jika sesuatu hukumnnya fardlu ‘ain, maka pembukaan dan wasilah-wasilahnyapun menjadi fardlu ‘ain pula, sebab wasilah hukumnya sama dengan tujuannya. Sedangkan I’dad adalah wasilah jihad yang tidak mungkin terlaksana kecuali dengannya. Dengan demikian maka I’dad hari ini hukum I’dad adalah fardlu ‘ain bagi setiap muslim yang mampu. Sedangkan I’dad askari adalah termasuk bagian dari I’dad. Akan tetapi pembagian macam-macam I’dad antara umat Islam harus dengan terorganisir dan tertib sehingga setiap orang berada dalam posisi yang sesuai dengan keperluan para mujahidin. Dengan demikian maka posisinya dalam I’dad memenuhi kebutuhan umat Islam di negerinya.”

Cakupan I’dad
I’dad tidaklah hanyalah sekedar mempersiapkan kekuatan fisik saja, meskipun persiapan fisik sama sekali tidak boleh diremehkan karena rosululloh telah menyatakannya dengan jelas yang tidak mungkin lagi ditakwilkan kepada arti yang lain dan tidak ada yang meremehkannya kecuali orang yang sombong dan ngeyel. Berikut ini hadits-hadits dan pemjelasan para ulama’ tentang I’dad.
عن عقبة بن عامر قال : سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول وهو على المنبر: وأعدوا لهم ما ستطعتم من قوة، ألا إن القوة الرمي،ألا إن القوة الرمي،ألا إن القوة الرمي ) رواه مسلم و أبو داود(
Dari Uqbah bin Amir Dia berkata aku mendengar Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda di atas mimbar setelah membaca وأعدوا لهم ما ستطعتم من قوة "ketahuilah bahwasanya kekuatan itu adalah melempar, bahwasanya kekuatan itu adalah melempar, bahwasanya kekuatan itu adalah melempar.
ستفتح عليكم أرضون ويكفيكهم الله فلا تعجز أحدكم أن يلهو بسهمه
"Kelak akan ditaklukkan untuk kalian negeri-negeri, dan Allah mencukupkan atas kalian, maka janganlah salah seorang diantara kalian merasa malas uantuk mempermainkan panahnya." (HR.Muslim)
كل شيئ يلهو به الرجل باطل إلا رميه بقوسه وتأديبه فرسه وملاعبته أهله فإنه من الحق
"Segala sesuatu yang dijadikan pemainan seseiorang adalah batil (sia-sia) kecuali seorang yang memanah dengan busurnya, seorang yang melatih kudanya dan seorang yang bersendau gurau dengan istrinya, sesungguhnya ia termasuk perkara yang haq." (Dikeluarkan oleh At Turmudzi no 1637 dalam fadzilah jihad)
Telah berkata Amirul Mukminin Umar bin Khotob radhiyallahu ‘anhu.
علموا أولادكم الرماية والسباحة و ركوب الخيل
"Ajarilah anak-anakmu melempar, berenang dan mengendarai kuda."
عن قيس بن أبي حازم قال: رأيت خالد بن الوليد يوم اليرموك يرمي بين هدفين ومعه رجال من أصحاب محمد صلي الله عليه وسلم قال: وقال أمرنا أن نعلم أولادنا الرمي والقرآن ( رواه الطبرانى وفيه المنذر بن زياد الطائي وهو متروك(
Dari Qois bin Abi Hazim berkata: "Saya melihat Kholid bin Walid pada perang Yarmuk melempar antara dua jarak dan bersamanya orang-orang dari sahabat Rosulullah Saw. Dia berkata: "Kami diperintahkan untuk mengajar anak-anak kami melempar dan mempelajari Al Qur an."
Abu Syaikh dan Ibnu Mardawih mentakhrij dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma tentang firman Allah Ta’ala:
وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَاسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ
“Dan persiapkanlah untuk menghadapi mereka apa yang kalian mampu dari kekuatan “ ( Al Anfal 8: 60 ) . Yakni: Melempar, pedang dan senjata.
Ibnu Ishaq dan Ibnu Hatim mentahrij dari Abdullah bin Az Zubair radhiyallahu ‘anhu menjelaskan ayat di atas, beliau berkata: "Allah memerintahkan mereka mempersiapkan kuda perang”. Sedang menurut Ikrimah R.A: "Kekuatan dari kuda-kuda jantan dan kuda betina”. Pendapat ini sama dengan pendapat Mujahid.
Menurut Sa'id bin Musayyib, kekuatan kuda sampai anak panah dan yang lainya.
Dari kesemua pendapat di atas sangat mencerminkan kondisi kehidupan mereka dimana waktu itu kuda, pedang, panah adalah alat-alat yang efektif untuk berperang. Sehingga mereka menekankan untuk memepersiapkan hal-hal tersebut.
I’dad tidaklah sebatas latihan-latihan kemiliteran saja, dengan seperangkat alat-alat dan persenjataannya untuk menghadapi musuh, hal ini hanya masuk dalam satu sisi saja. Dan I’dad memiliki arti yang sangat universal.
Sudah menjadi sebuah keharusan bagi umat Islam agar tinggi di hadapan umat-umat lainnya dalam semua sisinya. Karena Islam memiliki fungsi untuk mengeluarkan manusia, memberikan petunjuk, dan memimpin mereka untuk menempuh jalan Allah ta’ala. Fungsi ini menuntut umat islam menjadi umat yang tinggi dari umat-umat lainnya. Indifidunya yang memilki kapabelitas yang tinggi, masyarakatnya yang berpotensi dalam berbagai aspek keilmuan; Ilmu siasy, sosial, ekonomi, kemiliteran dan lainnya. Dan dari sisi ilmu alam; ilmu kedokteran, falaq, perdagangan, dan lainnya. Itu semua akan saling melengkapi. Dan tidak mungkin umat ini akan bangkit dan tinggi di hadapan umat lainnya atau memeroleh barokah umat-umat terdahulu dalam hidupnya bilamana belum memenuhi standar ilmu sosial dan ilmu alam.
Dari sinilah umat Islam harus menyadari, bahwa sudah menjadi sebuah kewajiban mempersiapkan semua aspeknya dalam kehidupan tanpa mengesampingkan yang lainnya. Walaupun pada waktu tertentu ada sisi yang lebih diutamakan dari yang lainnya.
Maka harus disiapkan kader yang membidangi siyasah syar’iyyah, yang sesuai dengan petunjuk kitab dan sunnah. Juga disiapkan kader yang membidangi dalam ilmu ekonomi, ilmu pengajaran dan pembelajaran, ilmu kedokteran dan yang paling utama adalah mempersiapkan kekuatan di bidang militer. Yang kesemuaannya harus disiapkan dengan tidak mengesampingkan satu sisi pun.
Abdurrohman bin Nasir Ali Sa’di –rahimahullah- telah berkata:”Bahwa wajib mempersiapkan segala kekuatan dan waspada dari mereka musuh-musuh Allah. Sebagaimana firman Allah ta’ala:
وَأَعِدُّوا لَهُم مَّااسْتَطَعْتُم مِّن قُوَّةٍ وَمِن رِّبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللهِ وَعَدُوَّكُمْ وَءَاخَرِينَ مِن دُونِهِمْ لاَتَعْلَمُونَهُمُ اللهُ يَعْلَمُهُمْ وَمَاتُنْفِقُوا مِن شَىْءٍ فِي سَبِيلِ اللهِ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنتُمْ لاَتُظْلَمُونَ
“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Alla niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).” (Al-Anfal:60)

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا خُذُوا حِذْرَكُمْ فَانفِرُوا ثُبَاتٍ أَوِ انفِرُوا جَمِيعًا
“Hai orang-orang yang beriman, bersiapsiagalah kamu, dan majulah (ke medan pertempuran) berkelompok-kelompok, atau majulah bersama-sama!.” (an-Nisa’: 71)
Mengomentari dua ayat diatas, Syaikh Abdurrohman bin Nasir Ali Sa’di -rahimahullah- berkata:” Dua ayat di atas mencakup segala usaha atas orang muslim untuk membendung serangan musuh dan membekukannya, yaitu dengan I’dad (persiapan) yang matang ; dari kekuatan akal, dan siasat maknawi dan madzi yang mencakup di dalamnya ; belajar seni perang dan aturan dasar militer, adanya para pemimpin-pemimpin perang, gudang persenjataan
Dijelaskan dalam tafsir Al-Manar bahwa: dan ini seperti perkataan ahli tafsir dan dari Hadits (الحج عرفة) yang mempunyai makna bahwa kedua hal tersebut adalah rukun yang paling besar dalam babnya itu dikarenakan melempar musuh dari jauh yang dengannya mampu membunuh musuh itu lebih selamat dari pada berhadapan jarak dekat dengan menggunakan pedang, tombak, lembing dan dimutlakkannya Ar Romyu dalam hadits meliputi setiap yang dengannya dilemparkan kepada musuh dari tanah, manjanik, rudal, senapan, meriam dan lain sebagainya sekalipun hal ini belum dikenal pada masa Rosulullah Saw. Disana ada dalil-dalil lain yang mendorong untuk melempar dengan panah karena dia seperti melempar peluru pada saat ini, lafadz dari ayat (8 Al Anfal:60) adalah lebih menunjukkan pada keumumannya karena ia adalah perintah dengan segenap kemampuannya yang dibebankan p[ada ummat pada setiap tempat dan zaman.
Maka kewajiban atas ummat Islam pada hari ini berdasarkan nash Al Qur an (8:60) “Dan persiapkanlah olehmu kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang tertambat …”, adalah membuat meriam dengan segala macam bentuknya dan senapan-senapan serta tank-tank, jet-jet tempur, dan membuat kapal perang dengan segala fariasi bentuknya, seperti kapal selam. Dan diwajibkan bagi mereka untuk mempelajari ilmu dan ketrampilan yang sesuai dengannya. Sehinnga mampu membuat segala macam kekuatan dari kekuatan-kekuatan peperangan, dengan dalil "Apa-apa yang tidak bisa sempurna dari suatu kewajiban yang mutlak kecuali dengannya maka ia menjadi wajib."
Sedang menurut Jamaluddin Al Qosimi:
“Yaitu segala sesuatu yang dapat memperkuat peperangan dari segi jumlah namun secara umum kekuatan yang memadai.”
Menurut Sa'id Hawa ayat ini (Al-Anfal: 60) mencakup segala bentuk melempar dan segala macam alat, karena (من) dalam ayat ini menujukkan jenis
Kholid Ahmad Santut memandang bahwa bahwa I'dad untuk jihad itu mencakup dua aspek: pertama, mempersiakan personal dan yang kedua mempersiapkan peralatan. Persiapan personal lebih didahulukan daripada peralatan
Syaikh ‘Abdullah ‘Azzam menjelaskan tentang I'dad sebagai berikut:
- I'dad adalah mempersiapkan kekuatan
- I'dad adalah melempar
- I'dad adalah melatih kuda dan memeliharanya
- I'dad adalah mempersiapkan fisik
- I'dad adalah mempersiapkan mental spiritual
Dari keterangan para ulama mengenai tujuan jihad, dan bahwa ia bukan satu-satunya tujuan akhir dan telah diketahui pula pengertian I'dad menurut mereka, maka perlu kiranya kita mengkaji pentingnya I'dad dan jihad pada hari ini dan sisi apa saja yang harus kita persiapkan, dikarenakan semakin kompleknya pemasalahan yang timbul hari ini.
Abdul Baqi Romdhun membagi aspek penopang jihad menjadi dua:
a. Aspek ma’nawi (spiritual) yang mencakup:
- Kekuatan iman
Ini dapat di capai dengan memakmurkan hati dengan iman, akal yang dibekali dengan ilmu, dan ruh yang selalu berhubungann dengan Allah.
- Kesamaan shof dengan menguatkan ikatan, saling mempercayai serta beriltizam untuk taat.
- Kebersamaan /kejasama yaitu deang saling mengemukakan pendapat, plaining serta pelaksanaan.
- Sabar yaitu sabar dalam ketaatan, sabar terhadap kemaksiatan dan sabar atas cobaan
b. Aspek material yang mencakup:
- Kelayakan jasmani yatu dengan melatih kekuatan otot, gulat dan kemauan yang kuat.
- Pengalaman perang dalam bidang seni berperang, macam-macam senjata berbagai macam persiapan.
- Plaining tempur dengan pembatasan target dan perincian dalam pelaksanaan.
- Persenjataan mencakup persenjataan darat, laut dan udara.
Sedang menurut Kholid Ahmad Santut aspek yang harus dipersiapkan dalam rangka jihad ada beberapa aspek diantaranya:
a. Aspek ruhi
b. Persiapan fikri
c. Persiapan jiwa (mental)
d. Persiapan jasadi
e. Persiapan harta.
f. Menyiapkan masyarakat.
Abdul Mun’in Mushthofa Halimah berkata:”Adapun yang dimaksud dengan kekuatan yang harus dipersiapkan adalah segala kekuatan dengan segala macam, bentuk dan sebab-sebabnya, sebagaimana yang dikatakan Sayyid Quthub. (Yang beliau maksud adalah perkataan Sayyid Quthub dalam Fii Dlilalil Qur’an III/1543 yang berbunyi:”Maka mempersiapkan kekuatan adalah faridloh yang menyertai faridloh jihad, dan nas memerintahkan untuk mempersiapkan kekuatan dengan segala macam, bentuk dan sebab-sebabnya.”)
Segala kekuatan dalam berbagai bentuknya yang semuanya itu terangkum dalam kekuatan maddi (materi) dan kekuatan ma’nawi (moral).
Adapun mempersiapkan kekuatan yang berupa kekuatan maddi semuanya sudah maklum yaitu dimulai dari membentuk fisik manusia sehingga mampu untuk beradaptasi dan menanggung semua tahapan perang sampai terakhir mampu menguasai senjata yang paling mutakhir serta mampu menggunakannya dengan baik.
Akan tetapi ada sesuatau yang masuk dalam pengertian I’dad maddi yang perlu untuk kami singgung sebab banyak pada penggembos-penggembos yang memperdebatkannya dan menebarkan keragu-raguan pada umat atas keabsahan dan pensyariatannya. Yaitu I’dad yang berarti beramal jama’I, bertandzim dan imaroh.”
Lalu beliau menerangkan bahwa yang dimaksud dengan kekuatan moral adalah beramal dengan sungguh-sungguh dan serius untuk merealisasikan tauhid dengan berbagai macamnya sebagaimana yang telah ditetapkan oleh ahlus sunnah wal jama’ah.
Jihad bukanlah suatu pekerjaan yang insidental, sporadis dan sementara. Atau garakan yang begitu ditegakkan akan langsung memetik hasil yang gemilang, namun dia adalah pekerjaan yang terus menerus hingga tegaknya hari pembalasan, yang tentunya memerlukan perencanaan yang matang dan terkendali hingga akhirnya tidak terhenti dan kandas ditengah jalan.
Kesemua aspek yang telah disebutkan diatas kesemuanya memerlukan penanganan yang serius. Yang satu dengan yang lainnya saling berbeda penekanannya menurut kondisi waqi’ yang melingkupi ruang gerak ummat Islam. Dan menurut timbang maslahat serta madlorot dari seorang imam yang dapat di percaya.
Namun bagaimanapun juga jalan jihad ini harus selalu ditopang oleh kekuatan yang memadai supaya perjalanannya tetap langgeng dalam memerankan fungsinya mengawal kebenaran Islam. Dr Majid Arsan Al Kailani menerangkan betapa pentingnya jihad dalam makna qital (perang) pada saat ini. Ketika nampak bahwa pemikiran-pemikiran dan idiologi-idiologi yang menuntun alam ini dipegang oleh selain orang-orang Islam, khususnya orang-orang barat yang tidak akan pernah berhenti hingga datangnya kiamat, tentang sukanya mereka kepada permusuhan, menguasai, memperbudak yang lain, dan merampas sumber daya serta mewariskan keterbelakangan di kalangan umat Islam (Al Ummah Al Muslimah, hal: 69)
Dengan pernyataan beliau di atas nampaklah urgensi i’dadul quwwah dari segala aspeknya untuk menghadapi makar orang-orang kafir dan untuk mengawal perjalanan dakwak islamiyah hingga risalah Islam memasuki setiap pintu-pintu rumah penduduk alam semesta. Walaupun kita tidak tahu kapan kekuatan itu harus digunakan karena boleh jadi Alloh mentakdirkan kejayaan Islam melalui wasilah yang lain. Namun sangatlah naif apabila kita telah menggeluti satu wasilah demi menegakkan Islam, namun kita mengesampingkan wasilah yang lain yang keberadaannya telah merupakan keharusan, sebagaimana firman Alloh dalam surat Al Anfal: 60

KESIMPULAN
Sebelum memulai peperangan, kita dihadapkan dengan kewajiban dakwah menyeru orang-orang kafir tersebut sebelum memerangi mereka. Dalam hal ini sebagaimana yang telah lalu bahwa orang kafir itu ada orang kafir asli dan orang murtad. Adapun dakwah terhadap orang kafir asli, maka menurut pendapat yang rojih adalah siapa saja yang kita ketahui belum sampai dakwah kepadanya, maka kita tidak boleh memeranginya kecuali setelah kita terangkan tentang Islam kepadanya –walaupun sebagian mereka mengaku menerima dakwah tersebut- Adapun jika telah sampai dakwah kepada mereka, kaum muslimin boleh mendakwahi mereka sebagai peringatan atau langsung memerangi mereka tanpa mendakwahi terlebih dahulu karena mereka sudah tahu apa yang dikehendaki oleh kaum muslimin. Bahkan bisa jadi kalau diawali dengan dakwah dulu akan membahayakan kaum muslimin, maka tidak apa-apa untuk diperangi tanpa dakwah terlebih dahulu.
Adapun terhadap orang murtad maka wajib hukumnya memerangi orang-orang murtad setelah berdiskusi dengan mereka tentang Islam untuk mengajak kembali kepada Islam, dan hal ini wajib hukumnya menurut jumhur ulama’ sebagimana yang telah kita bahas di atas. Jika mereka tetap tidak mau kembali kepada Islam, mereka diperangi sebagaimana orang kafir harbi dalam hal bolehnya menyergap mereka dan menyerang pada waktu malam hari.
Setelah kewajiban dakwah, menyeru mereka kepada Islam telah dilaksanakan maka wajib bagi kaum muslimin untuk melaksanakan kewajiban jihad. Yang demikian ini ketika kaum muslimin mempunyai kemampun untuk melaksanakannya. Adapaun ketika tidak mempunyai kemampuan untuk melaksanakannya, maka kaum muslimin diberikan pilihan;
Pertama; tetap melakukan jihad karena dorongannya yang kuat untuk mati syahid, namun tetap dengan selalu memperhatikan ketentuan-ketentuannya yang telah kita bahas pada masalah istitho’ah pada bab istitho’ah dan inghimas, karena istitho’ah itu adalah syartu wujub dan bukan syartu shihhah.
Model jihad semacam ini bukan berarti hannya sekedar ngawur dalam pelaksanaannya. Artinya meskipun ia tidak mempunyai tujuan dalam jihadnya itu untuk meraih kemenangan bagi dirinya atau kelompoknya, namun ia atau kelompok tersebut mesti mempertimbangkan bagaimana jihadnya mempunyai peran dalam memenangkan perjuangan umat Islam secara umum. Jadi yang dimaksud tidak menjadikan kemenangan sebagai tujuan di sini adalah kemenangan bagi dirinya atau kelompoknya, namun tetap mempertimbangkan kemenangan Islam dan kaum muslimin secara umum atau minimal tidak merugikan kaum muslimin secara umum atau kelompok mujahidin yang lain. Oleh karena itu jumhur ulama’ mensyaratkan dalam melakukan iqtiham (menceburkan diri ke barisan musuh) dengan beberapa syarat sebagaimana yang dikatakan Syaikh Abu ‘Umar Muhammad As-Saif setelah beliau memaparkan perkataan para ulama’, yaitu:
1. Ikhlas
2. Nikayah (membunuh, melukai musuh)
3. Menggentarkan mereka
4. Memperkuat keberanian kaum muslimin
Dan beliau menyebutkan bahwasanya Ibnu Qudamah dan Al-Qurthubi membolehkannya meskipun hanya bermodalkan niat ikhlas mencari mati syahid. Oleh karena itu hendaknya menurut beliau janganlah orang yang berjihad itu hanya sekedar berdasarkan mencari mati syahid saja tanpa ada tujuan lain yang bermanfaat bagi kaum muslimin dan mujahidin, meskipun demikian beliau juga menerangkan bahwa kalau kita katakan orang yang tidak memenuhi syarat-syarat tersebut berbuatanya tercela dan tidak benar, ini adalah sebuah kedholiman, dan iqtiham itu boleh meskipun tidak memenuhi syarat-syarat tersebut, meskipun tidak afdlol. Artinya syarat-syarat tersebut bukanlah syarat syahnya jihad. (secara lebih lengkap lihat: Bab V tentang inghimas/iqtiham)
Ibnu Hajar berkata:”Adapun masalah seseorang yang menyerang musuh yang banyak, maka jumhur menegaskan jika disebabkan oleh keberanian yang luar biasa dan perkiraan bahwa hal itu bisa menggentarkan musuh atau menambah keberanian kaum muslimin atau niat-niat baik lain yang semacam itu, maka hal itu adalah baik. Dan jika melakukannya tanpa dengan pertimbangan sama sekali maka tidak boleh, apalagi kalau hal itu melemahkan semangat kaum muslimin. Wallohu a’lam. (Fathul Bari Kitabut Tafsir VIII/33 penjelasan hadits no. 4516)
Al-Qurthubi berkata:”Para ulama’ berselisih pendapat pada masalah seseorang yang menceburkan diri dalam peperangan dan menyerang kedalam barisan musuh sendirian. Adapun Al-Qosim bin Mukhoimiroh, Al-Qosim bin Muhammad dan Abdul Malik dari kalangan ulama’ kita berpendapat; tidak apa-apa seseorang menyerang musuh yang berjumlah sangat banyak jika ia mempunyai kekuatan dan mempunyai niat ikhlas untuk Alloh, namun jika tidak mempunyai kekuatan, hal itu termasuk dalam katagori kebinasaan. Dan ada yang berpendapat jika ia mencari mati syahid dan mempunyai niat ikhlas, maka boleh ia menyerang karena ia mempunyai satu tujuan dan hal itu jelas terdapat dalam firman Alloh:
و من الناس من يشري نفسه ابتغاء مرضات الله و الله رؤوف بالعباد
“Dan di antara manusia ada orang yang menjual dirinya untuk mencari keridlon Alloh dan Alloh Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.” (QS.Al-Baqoroh: 207)
Imam Ghozali berkata adalam kitab Al-Ihya’ Bab Amar ma’ruf Nahi Munkar:”Tidak diperselisihkan lagi bahwasanya seorang muslim boleh menyerang ke barisan musuh sendirian, walaupun ia tahu ia akan terbunuh. Hal yang demikian itupun juga diperbolehkan dalam amar ma’ruf nahi munkar sebagaimana dalam peperangan. Akan tetapi jika dia tahu bahwa perbuatannya tersebut tidak memberikan kerugian pada musuh, seperti orang buta atau orang lemah yang melemparkan diri ke dalam barisan musuh, hal tersebut adalah haram.dan masuk kedalam pengertian umum dari ayat yang melarang menjerumuskan diri ke dalam kehancuran. Dan hal tersebut diperbolehkan hanyalah jika dia tahu tidak akan terbunuh kecuali setelah ia membunuh, atau ia tahu akan menghancurkan keberanian orang-orang kafir setelah melihat keberaniannya, dan mereka (orang-orang kafir) akan berkeyakinan bahwa seluruh kaum muslimin tidak banyak memberikan perhitungan terhadap orang kafir, dan mereka cinta akan mati syahid fi sabilillah, lalu kekuatan merekapun menjadi hancur.” (Ittihafus Saadatil Muttaqin fii Syarhi Ihya’I ‘ulumiddin VII/26). Ibnun Nuhas dalam mengomentari perkataan Imam Ghozali tersebut berkata:” Dan saya tidak melihat seorangpun yang berselisih pendapat dalam kasus seperti ini. Akan tetapi pada kasus seperti ini, jika bertahannya itu dikarenakan keberanian dengan niat ikhlas untuk mencari mati syahid, dan memungkinkan untuk menyerang musuh dengan panah atau api atau batu atau yang lain yang bisa menyakiti atau membunuh mereka, maka hal semacam inilah yang perlu dikaji. Apakah lebih baik ia bertahan atau lari, dan dalil-dalil yang tercantum pada bab sebelumnya secara jelas menyatakan lebih baik bertahan. Wallohu a’lam. (lihat dalam bab IV Syarat-syarat jihad tentang istitho’ah)
Dan banyak lagi keterangan para ulama’ dalam hal ini yang sebagiannya telah kami sebutkan ketika mengkaji istitho’ah dan iqtiham.
Kedua; melakuakan I’dad untuk jihad fii sabilillah dengan berpegang kepada ayat-ayat sabar dan berlapang dada tehadap orang-orang kafir serta menahan diri untuk tidak melawan orang-orang kafir tersebut sampai terwujudnya kekuatan yang memadai sebagai mana yang telah ditetapkan oleh syar’i.
Oleh karena itu Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, meskipun telah menyatakan bahwa ayat-ayat yang menyatakan untuk bersabar dan berlapang dada terhadap orang-orang kafir itu telah mansukh, beliau juga memberikan rukhshoh bagi orang yang tidak mempunyai kekuatan yang cukup untuk menghadapi musuh untuk mengamalkan dan berpegang dengan ayat-ayat tersebut. Beliau berkata:
فمن كان من المؤمنين بأرض هو فيها مستضعف أو في وقت هو فيه مستضعف فليعمل بآية الصبر والصفح والعفو عمن يؤذي الله ورسوله من الذين أوتوا الكتاب والمشركين ،وأما أهل القوة فإنما يعملون بآية قتال أئمة الكفر الذين يطعنون في الدين وبآية قتال الذين أوتوا الكتاب حتى يعطوا الجزية عن يد وهم صاغرون الصارم المسلول ص :221 .
“Orang-orang berriman yang berada di suatu daerah dalam keadaan lemah atau berada pada suatau masa kelemahan, maka hendaknya ia beramal dengan ayat-ayat kesabaran, berlapang dada dan memaafkan terhadap orang yang mencela Alloh dan Rosul-Nya, baik mereka itu ahlul kitab maupun orang-orang musyrik. Adapun orang-orang yang mempunyai kekuatan, mereka mesti beramal dengan ayat-ayat yang memerintahkan untuk memerangi para pemimpim orang-orang kafir yang menghina agama dan beramal dengan ayat-ayat yang memerintahkan untuk memerangi ahli kitab sampai mereka mau membayar jizyah dalam keadaan hina.”
Dalam tempat yang sama beliau juga mengatakan:
وصارت آية الصغار على المعاهدين) كذا بالمطبوعة ولعلها :المعاندين) في حق كل مؤمن قوي يقدر على نصر الله ورسوله بيده أو بلسانه ،وبهذه الآية ونحوها كان المسلمون يعملون في آخر عمر رسول الله  وعلى عهد خلفائه الراشدين ،وكذلك هو إلى قيام الساعة ،لا تزال طائفة من هذه الأمة قائمين على الحق ، ينصرون الله ورسوله النصر التام } المصدر السابق: ( ص :221) {
“Dan ayat kehinaan terhadap orang-orang yang menolak adalah berlaku bagi setiapp orang mukmin yang kuat yang mampu untuk membela Alloh dan Rosul-Nya baik dengan tangannya atau lisannya. Dan ayat semacam inilah yang diberlakukan kaum muslimin pada masa akhir umur Rosululloh dan pada masa Khulafa’ Rosyidin. Dan begitulah sampai hari qiyamat akan senantiasa ada satu kelompok dari umat ini yang tegak di atas kebenaran yang membela Alloh dan Rosul-Nya dengan pertolongan yang sempurna.”
Dalam hal inipun juga berarti malas atau pengecut takkut mati, namun memperhitungkan untuk meraih kemenangan dalam peperanganpun juga merupakan kewajiabn yang tidak boleh diabaikan sama sekali. Memaang kemenangan atau kekalahan itu semuanya di tangan Alloh, dan hal itu merupakan kepastian yang tidak bisa diganggu gugat. Namun kalua keyakinan itu menjadikan kita melalaikan kita atau menjadikan kita meremehkan perintah untuk mengusai dunia dengan hukum Islam, sehingga tidak ada sekelompokpun dari umat Islam yang berusaha untuk meraih kemenangan itu, maka hal itupun juga tidak bisa dibenarkan, karena meraih kemenanganpun merupakan sebuah target dalam jihad itu sendiri selain di sisi lain memang jihad adalah sebuah ibadah yang ketentuannya sudah ditetapkan oleh syar’i.
Di antara yang menunjukkan bahwa kaum muslimin secara umum harus memikirkan dan mempertimbangkan bagaimana bisa meraih kemenangan dalam melaksanakan jihad adalah poin-poin sebagai berikut:
1. Kewajiban jihad sendiri menjari gugur ketika kemampuan untuk melawan musuh itu tidak ada. Hal ini telah kami paparkan dalam syarat-syarat jihad sehingga tidak perlu lagi kami paparkan di sini. Di sana telah kami sebutkan pendapat para ulama’ tentang patokan yang dijadikan pertimbangan dalam masalah kemampuan itu sendiri baik kwalitas maupun kwantitas. Seaindanya kita tidak diperintahkan untuk mempertimbangkan dan berusaha menyusun strategi bagaimana supaya kita dapat meraih kemenangan dalam melaksanakan jihad itu, tentu tidaklah disyaratkan lagi kemampuan melwan musuh dalam pelaksanaan jihad itu sendiri.
2. Ulama’ telah bersepakat atas wajibnya menegakkan khilafah dan mengangkat kholifah untuk mengatur urusan kaum muslimin dan menegakkan syari’at Alloh di muka bumi. Dan kalau kewajiban untuk menegakkan khilafah ini tidak dilaksanakan maka berdosalah setiap orang yang mengabaikannya. An-Nawawi berkata dalam Syarh Muslim XII/205 :”Para ulama’ berijma’ atas wajibnya kaum muslimin untuk menganngkat seorang kholifah.”
Al-Qurthubi berkata dalam tafsirnya I/264 ketika menafsirkan ayat
إني جاعل في الأرض خليفة
“Ayat ini merupakan dasar pengangkatan imam atau kholifah yang didengar perkataannya dan ditaati, untuk supaya menyatukan kata dan dilaksanakan hokum-huukkum kholifah. Dan kewajiban ini tidak ada perselisihan di kalangan umat Islam maupun di kalangan para imam, kecuali sebuah pendapat yang diriwayatkan dari Al-Ashom – seorang mu’tazilah – karena ia buta tentang syari’at.” Secara lebih jalas dalil-dalilnya dipaparkan secara panjang lebar dalam kitab-kitab nidzomul hukmi seperti Al-Ahkam As-Sulthoniyyah dan Imamamtul ‘Udzma ‘Inda Ahlis Sunnah Wal Jama’ah.
3. Semua tujun-tujuan disyari’atkannya jihad itu tidak akan tercapai sehingga kaum muslimin mendapatkan kemenangan dalam berjihad. Sedangkan tujuannya yang paling utama adalah sirnanya kekafiran itu sendiri sebagai mana yan talah kita bahas sebelumnya.

HAK ANAK TERHADAP ORANG TUA

Anak, sebagai darah daging kedua orang tua, merupakan bagian yang tak
terpisahkan dari ibunya. Anak mempunyai hak-hak yang merupakan kewa-
jiban orang tuanya, terutama ibunya, untuk menunaikan hak-hak tersebut.
Jadi bukan hanya anak yang mempunyai kewajiban atas orang tua, tetapi
orang tua pun mempunyai kewajiban atas anak. Secara ringkas kewajiban
orang tua atas anaknya adalah sebagai berikut:

1Menyusui

Wajib atas seorang ibu menyusui anaknya yang masih kecil, sebagaimana rman Allah
yang artinya:
Para ibu hendaklah menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaita
bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. (QSAIBaqarah:233)
Allah ber rman, yang artinya:
Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada kedua orang
tuanya. lbunya telah mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkanya
dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampan menyapihnya adalah
tiga puluh bulan. (QSAlAhqaf15).
Al 'Allamah Siddiq Hasan Khan berkata,
"Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan. Maksudnya, adalah jumlah waktu selama itu dihitung dari mulai hamil sampai disapih.

2Mendidiknya

Mendidik anak dengan baik merupakan salah satu sifat seorang ibu muslimah. Dia
senantiasa mendidik anak-anaknya dengan akhlak yang baik, yaitu akhlak Muhammad
dan para sahabatnya yang mulia.
Mendidik anak bukanlah (sekedar) kemurahan hati seorang ibu kepada anak-anaknya,
akan tetapi merupakan kewajiban dan trah yang diberikan Allah kepada seorang ibu.
Mendidik anak pun tidak terbatas dalam satu perkara saja tanpa perkara lainnya,
sepertI (misalnya) mencucikan pakaiannya atau memberslhkan badannya saja. Bahkan
mendidik anak itu mencakup perkara yang luas, mengingat anak merupakan generasi
penerus yang akan menggantikan kita yang diharapkan menjadi generasi tangguh yang
akan memenuhi bumi ini dengan kekuatan, hikmah, ilmu, kemuliaan dan kejayaan.
Berikut beberapa perkara yang wajib diperhatikan oleh ibu dalam mendidik anak anaknya

2.1MenanamkanAqidahYangBersih

Menanamkan aqidah yang bersih, yang bersumber dari Kitab dan Sunnah yang shahih.
Allah ber rman yang artinya:
Maka ketahuilah bahwa sesugguhnya tidak ada sesembahan yang haq melainkan Allah. (QSMuhammad:19)
Rasulullah bersabda, yang artinya. Dari Abul Abbas Abdullah bln Abbas, dia berkata:
Pada suatu hari aku membonceng di belakang Nabi, kemudian beliau berkata,
'Wahai anak. Sesungguhnya aku mengajarimu beberapa kalimat, yaitu: jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya engkau mendapatiNya di hadpanmu. Apablla engkau meminta, maka mintalah kepada Allah. Dan apabila engkau mohon pertotongan, maka mohonlah pertotongan kepada Allah. Ketahuilah, seandainya seluruh umat berkumpul
untuk memberimu satu manfaat, niscaya mereka tidak akan dapat memberimu manfaat, kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan untukmu.
Dan jika mereka berkumpul untuk memberimu satu bahaya, niscaya mereka
tidak akan bisa membahayakanmu, kecuali dengan sesuatu yang telah Allah
tetapkan atasmu. Pena-pena telah diangkat dan tinta telah kering.
Dan dalam riwayat lain (Beliau berkata),
"Jagalah Allah, niscaya engkau akan mendapatiNya di hadapanmu. Perkenalkanlah dirimu kepada Allah ketika kamu senang, niscaya Dia akan mengenalimu saat kesulitan. Ketahuilah, apaapa yang (ditakdirkan) luput darimu,
(maka) tidak akan menimpamu. Dan apa-apa yang (ditakdirkan) menimpamu, ia tidak akan luput darimu.Ketahuilah, bahwa pertolongan ada bersama kesabaran, kelapangan ada
bersama kesempitan, dan bersama kesusahan ada kemudahan.
Seorang anak terlahir di atas trah, sebagaimana sabda Rasulullah maka sesuatu yang
sedikit saja akan berpengaruh padanya. Dan wanita muslimah adalah orang yang
bersegera menanamkan agama yang mudah ini, serta menanamkan kecintaan tehadap
agama ini kepada anak-anaknya

2.2MengajariAnakShalat

Mengajarkan anak-anak shalat yaitu dalam hal-hal yang utamanya, wajib-wajibnya,
waktunya, cara berwudhu dan dengan shalat dihadapan mereka. Demikian pula dengan
pergi bersama mereka ke masjid, berdasarkan sabda Nabi dan hadits Sabrah,Perintahkanlah anak untuk shalat apabila mereka telah berumur tujuh tahun.Dan jika mereka telah berumur sepuluh tahun (tetapi tidak shalat), maka pukullah mereka.
Hendaknya para ibu mengajarkan kepada mereka, bahwa shalat bukan hanya sekedar
gerakan atau rutinitas seorang hamba kepada Rabbnya. Akan tetapi, shalat meru-
pakan hubungan yang dalam dan kuat antara seorang hamba dengan Rabb-nya. Maka
peringatkanlah mereka dengan sungguh-sungguh, supaya tidak meninggalkan shalat.
Berilah mereka ancaman bila meninggalkan perbuatan tersebut.
Suruhlah mereka untuk senantiasa bersegera menunaikan shalat pada awal waktu.
Allah di ber rman, yang artinya:
Maka datanglah sesudah mereka pengganti yang jelek yang menyla-nyiakan
shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan
menemui kesesatan, kecuali orang yang bertaubat serra mengerjakan amal
shalih. (QSMaryam:59-60).
Nabi bersabda,Aku diperintah untuk memerangi manusia sampai mereka bersaksi, bahwa tidak ada sesembahan yang hak, kecuali Allah, dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, dan sampai mereka mendirikan shalat, menunaikan cakat Apabila mereka melakukan itu, maka terjagalah dariku darah-darah mereka dan harta-harta mereka, kecuali merupakan hak Islam; dan perhitungan mereka atas Allah, Ibnu Hazm berkata, "Barangsiapa mengakhirkan shalat dan waktunya, maka dia itu hina.

2.3MenanamkanKecintaanKepadaAllahdanRasuINya,dan MendahulukanKeduanya

Dari Anas dia berkata, Rasulullah bersabda "Tidak sempurna imam seseorang diantara kalian sampai aku menjadi orang yang lebih dicintainya daripada bapaknya, anaknya dan seluruh manusia."
Dengan menanamkan kecintaan kepada Allah dan RasuINya di hati anak-anak akan
mengantarkan mereka menyambut seruan Allah dan RasuINya. Dan ini menjadi motivasi dasar untuk seluruh yang mengikutinya.

2.4MengajarkanAlQur’andanMenyuruhAnak-AnakMenghafalkan

Ini merupakan masalah besar yang hanya akan didapatkan oleh orang yang secara
sungguh-sungguh berusaha menghafal dan mengamalkannya. Hendaklah ibu memulainya dengan menyuruh menghafal surat Al Fatihah dan surat-surat pendek. Demikian pula hendaklah kita menyuruh mereka menghafal at tahiwat untuk shalat.
HadIts-hadits Nabi telah menunjukkan keutamaan itu semua. Diantaranya yang diriwayatkan oleh Utsman bin Afan dari Nabi beliau bersabda,
"Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al Qur'an dan mengajarkannya."
Para ibu pada masa kejayaan Islam, benar-benar memotivasi anak-anaknya untuk mendapatkan kebaikan, terlebih lagi dari Al Qur'an, sebagaimana mereka mengusahakan
kebaikan bagi jiwa anak-anaknya.

2.5MembuatAnak-AnakCintaKepadaSunnahSertaMenyuruh MerekaMenjaganya

Allah ber rman, yang artinya:
Barangsiapa mentaati Rasul itu, maka sesunguhnya dia telah mentaati Allah.(QSAnNisa:80).
Allah ber rman, yang artinya:
Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. (QSAIHasyr:7).
Nabi bersabda, dari hadits Irbadh bin Sariyah yang artinya:
"Aku wasiatkan kepada kalian agar bertaqwa kepada Allah, mend-gar dan taat, meskipun
yang memerintahkan kalian adalah budak dari Habasyah. Karena sesungguhnya, barangsiapa diantara kalian hidup setelahku, maka dia akan melihat perselisihan yang banyak.
Berpegang teguhlah kalian dengan Sunnahku dan Sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat pentunjuk. Peganglah ia erat-erat, dan gigitlah ta dengan gerahammu."

2.6MenanamkanKepadaAnakAgarBenciKepadaBid’ah

Agama Islam adalah agama yang sempurna. Allah ber rman, yang artinya:
Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya,dia mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan dia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu, dan Kami masukkan a ke dalam Jahannam dan Jahannam itu seburuk-buruk tempatkembali. (QSAnNisa:115)
Nabi bersabda, dari hadits Abdullah bin Mas'ud,Setiap perkara yang baru (dalam agama) adalah bid'ah, dan setiap bid'ah adalah sesat dan setiap kesesatan tempatnya di neraka.
Jadi setiap bid'ah itu tertolak, sebagaimana disebutkan dalam hadits. Adapun pembagian bid'ah menjadi dua, yaitu: bid'ah mahmudah (terpuji) dan bid'ah madzmumah (tercela), maka sebenamya yang dimaksudkan ialah bid'ah (perkara baru) secara bahasa saja, bukan secara syar'iyyah

2.7MembuatAnak-AnakCintaKepadaIlmuSyar’idanBersabar DalamMeraihnya

Ilmu syar'i merupakan ilmu yang paling mulia. Allah telah memuji ilmu dan ulama lebih
dari satu ayat dalam Al Qur'an. Allah ber rman, yang artinya:
Sesungguhnya yang takut kepada Allah diantara hamba-hambaNya hanyalah
ulama. (QSFathir:28).Dan katakanlah:
" Ya Rabb, tambahkanlah kepadaku ilmu". (QSTha-ha:114).
Dari Zar bin Hubasyi, dia berkata, "Aku mendatangi Sofwan bin 'Assal Al Muradi, lalu dia berkata, "Untuk tujuan apa engkau datang kemari?"Aku menjawab, "Karena mengharapkan ilmu". Dia berkata, "Sesungguhnya malaikat meletakkan sayap-sayapnya bagi penuntut iImu, karena ridha dengan apa yang mereka carl."Belajar ketika masih kecil lebih baik daripada belajar ketika sudah dewasa, sebagaimana dalam sebuah sya'ir:
Belajar sewaktu kecil,bagaikan melukis di atas batu.
Pada masa permulaan Islam para ibu memotivasi anaknya untuk menuntut ilmu (syar'i).
Bahkan ada yang rela bekerja agar si anak bisa belajar. Lihatlah, bagaimana manusia
memuji Sufyan Ats Tsauri karena keluasan ilmu yang dimilikinya.Al Auza'i berkata tentangnya; "Tidak ada orang yang padanya orang awam berkumpul dengan ridha dan lapang dada, kecuali satu orang di Kufah yaitu Sufyan"Sufyan tidaklah mencapai apa yang menjadi cita-citanya, kecuali dengan pertolongan Allah, kemudian pertolongan ibunya yang shalihah.
Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dengan sanad dari Waki', dia berkata,"Ummu Sufyan berkata kepada Sufyan, 'Wahai, anakku. Tuntutlah iImu dan aku akan cukupimu dengan alat pemintalku'."
Alangkah besarnya tokoh-tokoh yang keluar dari madrasah ibu.
Ibu adalah madrasah.
Apabila engkau mempersiapkannya,
berarti engkau mempersiapkan generasi yang kuat akarnya
Ibu adalah taman.
Jika engkua merawatnya,
dia akan hidup dengan elok,
tumbuh daunnya beraneka rupa
Ibu adalah guru pertamanya para guru
Kemuliaanya terpancar menyebar sepanjang cakrawala

2.8MengajarkanKepadaAnakUntukMemintaIzin

Ini termasuk adab mulia yang penting diajarkan dan dibiasakan oleh seorang ibu muslimah kepada anak-anaknya, khususnya jika anak hampir baligh. Islam telah memberikan batasan dan rambu-rambu tentang hal ini dengan jelas. Allah ber rman, yang artinya:
Hai orang-orang yang beriman, hendaklah budak-budak (lelahi dan wanita)yang kamu miliki dan orang-orang yang belum baligh diantara kamu,meminta izin kepada kamu tiga kali (dalam satu hari), yaitu sebelum shalat shubuh, ketika kamu sedang menanggalkan pakaian (luarmu) di tengah hari dan sesudah shalat isya'. (Itulah) tiga aurat bagi kamu. Tdakada dosa atasmu dan tidak pula atas mereka selain dari (tiga waktu) itu.Mereka melayani kamu, sebagian kamu (ada keperluan) kepada sebagian yang lain. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat bagi kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha bijaksana. Dan apabila anak-anakmu telah sampai umur baligh, maka hendaklah mereka minta izin, seperti
orang-orang sebelum mereka minta izin. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayatNya. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QSAnNur:58,59).
Ayat-ayat tersebut menjelaskan waktu-waktu yang tidak diperbolehkan bagi anak-anak
yang belum baligh untuk masuk, kecuali setelah mendapat izin. Adapun selain tiga waktu tersebut, maka tidak berdosa atas mereka masuk tanpa izin. Imam Ibnu Katsir menjelaskan yang menjadi sebab perlunya meminta izin pada tiga waktu tersebut. Dia berkata,"Allah Ta'ala memerintahkan orangorang beriman, agar para budak yang mereka miliki dan anakanak mereka yang belum baligh untuk meminta izin kepada mereka dalam tiga waktu, yaitu:
1. Sebelum shalat fajar. Karena pada waktu itu manusia sedang tidur di tempat tidurnya.
2. KetIka menanggalkan pakaian pada slang hari, yaitu pada waktu qailulah (tidur siang), karena manusia seringkali sedang menanggalkan pakaiannya bersama istrinya pada waktu itu.
3. Setelah shalat Isya. Karena itu saat waktu tidur, maka diperintahkan kepada para budak dan anak-anak (yang belum baligh) untuk tidak masuk kepada ahli bait tanpa izin, karena ikhawatirkan ketika itu seorang suami sedang bersama istrinya atau sedang melakukan hal Iainnya.Oleh karena itu Allah ber rman, yang artinya:
(Itulah) tiga aurat bagi kamu. Tidak ada dosa atasmu dan tidak pula atas mereka selain dari (tiga waktu) itu.Maksudnya, apabila mereka masuk selain dari tiga waktu itu tanpa izin,maka tidak apa-apa atas kalian dan tidak pula atas mereka apabila mereka melihat sesuatu selain dari tiga waktu itu, karena telah diizinkan bagi mereka masuk tanpa izin, dan karena mereka banyak berinteraksi dengan kalian untuk melayani kalian atau yang lainnya."
Adapun bagi anak-anak yang telah baligh, maka mereka harus mina izin setiap waktu
apabila ingin masuk. Al Auza'i berkata dari Yahya bin Katsir,"Apabila anak masih berumur empat tahun, maka dia meminta izin kepada kedua orang tuanya dalam tiga waktu. Apabila mereka telah baligh, maka dia harus minta izin setiap waktu. "Keharusan minta izin ini tidak hanya ketika akan masuk ke rumah orang lain saja, akan tetapi juga ketika masuk ke rumah yang hanya dihuni oleh ibu atau saudara perempuannya. Diriwayatkan oleh Imam Al Bukhari dalam Adabul Mufrad,bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Hudzaifah,"Apakah aku harus mintaizin kepadaibuku?" Dia menjawab, "Jika engkau tidak minta izin kepadanya, engkau akan melihat apa yang engkau benci." Imam Al Bukhari meriwayatkan pula tentang keharusan seorang laki-laki minta izin kepada saudarinya."Atha bertanya kepada lbnu Abbas tentang meminta izin kepada saudara perempuan, maka Ibnu Abbas berkata, " Ya," lalu aku ulangi lagi, "Dua saudariku itu berada dalam pemeliharaanku, aku yang menjamin dan menafkahi mereka, apakah aku harus izin?" Beliau menjawab, "Ya. Apakah engkau suka melihat saudarimu sedang telanjang?" Kemudian beliau membaca, AlQur'an surat An Nur ayat 58.Kemudian Atha' berkata, "Mereka diperintahkan minta izin kecuali pada tiga waktu itu,". Ibnu Abbas membaca,fi rman Allah yang artinya:
Dan apabila anak-anakmu telah sampai umur baligh maka hendaklah mereka meminta izin, seperti orang-orang sebelum mereka minta izin
. (QS An Nur:59).
Ibnu Abbas berkata, "Minta izin hukumnya wajib." Ibnu Juraij menambahkan, "Atas setiap manusia."

2.9MenanamkanKejujuran

Jujur adalah sikap terpuji yang wajib kita tanamkan kepada anak-anak. Allah ber rman,yang artinya:
Hai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar (jujur). (QSAtTaubah:9).
Ayat-ayat tentang hal ini sangat banyak. Demikian pula hadits telah berulang menyitir akhlak terpuji ini.Dart Ibnu Mas'ud dari Nabi beliau bersabda,Sesungguhnya kejujuran menunjukkan kepada kebaikan, dan kebaikan menuntun kepada surga, dan sesungguhnya seseorang berkata jujur sehingga dia menjadi orang yang jujur. Dan sungguhnya kedustaan menunjukkan kepada kejahatan, sedangkan kejahatan mengantar kepada neraka, dan sesungguhnya seseorang perkata dusta hingga la tercatat di sisi Allah sebagai pendusta Berkata jujur adalah kemuliaan bagi anak-anak kita. Dan tidak akan tersealisasi, kecuali dengan berkata jujur dalam segala urusan.Jika seseorang hiasa berdusta, dia akan senantiasa dianggap pendusta di hadapan
manusia meskipun dia berkata jujur.

2.10MenanamkanSifatSabar

Allah ber rman, yang artinya:
Sesungguhnya hanya orang yang bersabadah yang dicukupkan pahala mereka tanpa hisab. (QSAzZumar:10).Dan juga rmanNya yang artinya:
Hai orang-orang yang beriman mohonlah pertolongan kepada Allah dengan
sabar dan shalat. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.
(QSAlBaqarah:153).
Dari Abu Yahya Shuhaib bin Sinan dia berkata, "Rasulullah bersabda,Sungguh menakjubkan urusan orang yang briman, sesunguhnya semua urusannya adalah baik baginya. Dan hal itu tidak terjadi, kecuali bagi orang yang beriman. Apabila dia diberi kesenangan, maka dia baik baginya. Dan apabila dia ditimpa kesusahan, maka dia bersabar, dan itupun baik baginya."

2.11MenyadarkanKepadaAnakTentangBerharganyaWaktu

Sesungguhnya menjaga waktu akan menanamkan sifat menepati janji pada waktunya.
Demikian pula harus diperhatikan, agar menyelesaikan pekerjaan tepat pada waktunya. Oleh karena itu Allah menganjurkan kita untuk menyusun jadwal kegiatan dan mengerjakannya pada waktu yang telah direncanakan. Dan waktu sangat terbatas.Allah ber rman, yang artinya:
Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman. (QSAnNisaa:103).
Ibnu Mas'ud pernah bertanya kepada Nabi, "Amal apa yang paling dicintai oleh Allah?"
Beliau menjawab, 'Shalat pada awal waktunya....'
Allah mengkhususkan masalah shalat, karena shalat dilakukan berulang lima kali sehari semalam. Apabila seseorang menjaga shalatnya dan melaksanakannya pada awal waktu, maka hal dapat menanamkan kedisiplinan dan pemanfaatan waktu. Dan agar menjadikan waktu sehat dan luangnya sebagai kesempatan untuk melakukan kebaikan,karena umur itu terbatas.
Ibnu Abbas berkata, bahwa Nabi bersabda,Dua nikmat yang banyak manusia tertipu dengannya, yaitu kesehatan dan waktu luang.
Para salafush shalih dan orang-orang yang meniti jalan mereka adalah manusia yang paling ketat dan paling bersemangat dalam menjaga waktu, yakni dengan memanfaatkan dan memenuhinya dengan berbagai kebaikan dan hal-hal bermanfaat.

2.12MenanamkanSifatPemberani

Allah ber rman, yang artinya:
Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu'min diri dan hartamereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang dijalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh. (QSAtTaubah:111).
Dan Abu Aufa Nabi bersabda,
"Dan ketahuilah bahwa surga di bahah naungan pedang "
"Sabda Rasulullah di atas termasuk ucapan yang indah, singkat tapi padat.
Memiliki gaya bahasa nan indah, ringkas dan lafazhnya bagus. (Ucapan) ini memberi faidah anjuran untuk berjihad, dan mengabarkan pahalanya, serta anjuran menghadapi musuh yang menggunakan pedang, serta bersatu ketika perang, sehingga pedang menaungi orang-orang yang berperang " Ibnul Jauzi berkata,
"Maksudnya adalah surga dapat diraih dengan jihad."Pada periode awal Islam, para ibu menjadi penolong dan pendorong anak-anaknya agar memiliki sifat pemberani. Dalam sejarah terdapat contoh-contoh tentang hal itu. Sebutlah Abdullah bin Zubair bin Awwam. Ketika dia keluar untuk memerangi Hajjaj binYusuf,bersamanya tidak ada orang, kecuali sedikit orang. la mengadu kepada ibunya Asma tentang ketidak pedulian manusia dan sikap diam mereka terhadap Hajjaj sampai orang yang paling dekat denganya sekalipun.Abdullah menanyakan pendapat ibunya. Lalu apakah yang dikatakan oleh wanita yang berjiwa besar ini? Apakah ia berkata kepada putranya, "Tinggalkanlah urusan ini"karena ia khawatir terhadap keselamatan putranya yang merupakan darah dagingnya?Tidak, demi Allah. Bahkan ia memompakan keberanian dan kesabaran sampal ia mati syahid.Dengan keberanian dan jihad semacam inilah akan tegak berdiri Daulah Islamiyah yang diharapkan dengan izin Allah.

2.13BersikapAdilDiantaraAnak-Anak

Dari Nu'man bin Basyir, Rasulullah bersabda,Bersikap adllah diantara anak-anakmu, adillah diantara anak-anakmu, adillah diantara anak-anakmu .Pada bagian akhir dari pembahasan ini, ingin aku sitirkan rman Allah melalui lisan Luqman Al Hakim kepada anaknya sebagai nasihat atas anak."Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengejakan kebaikan dan cegahlah (mereka) dari perbuatan mungkar dan bersabarlah terhadap apa-apa yang menimpamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan
lunakkanlah suaramu. Sesunguhnya seburuk-buruk suara adalah suara keledai." (QSLugman:7-19).

Saudariku muslimah, sesungguhnya anak-anak kita adalah amanah yang dititipkan Allah
kepada kita. Allah akan menanyakan, apakah kita akan menjaganya atau menyianyiakannya. Maka wajib atas kita untuk menjaga amanah ini. Dengan keyakinan, kita mendidik generasi muslim, kita persiapkan mereka agar menjadi generasi kuat untuk menghadapi orang-orang yang menyimpangkan Al Kitab dan Assunnah. Wallahu walyyut tau q.





Pengobatan Tradisional Aroma Therapy

Aroma Terapi dikenal sebagai pengobatan alternatif yang memiliki kemampuan yang baik untuk distimulasikan oleh tubuh, khususnya melalui alat indra penciuman. Di Jakarta Kerajinan Bali ini, merupakan salah satu produk aromaterapi yang bagus. Materialnya pun sangat alami, kebanyakan dari dari produk Aroma Terapi diolah dari tumbuh-tumbuhan dan juga buah-buahan yang dikemas dalam Tas Bali yang merupakan hasil dari Kerajinan Bali. Produk aromaterapi bisa berupa esensial oil, kemudian ratus, atau candle, atau seperti obat nyamuk yang dibakar, banyak dan bisa didapatkan di Spa Bali.
Manfaat aromaterapi dan Lulur Bali juga bukan sekadar perawatan kecantikan atau untuk merilekskan tubuh. Ada fungsi lain yang lebih ‘mulia’, mengobati tubuh dari penyakit-penyakit ’serius.’Dan tidak seperti obat-obatan yang mengandung kimia, pemakaian minyak esensial tumbuhan dalam Lulur Bali yang dikemas dalam Tas Bali yang menarik, tidak akan memberikan efek samping yang berlebihan bagi tubuh, jadi tidak akan mengganggu fungsi organ didalam tubuh kita. Menurut Dr. Dietrich Gumbel, Ph.D, penulis buku Principles of Holistic Skin Therapy with Herbal Essence, tumbuhan memiliki komposisi yang sama persis dengan manusia. Menurut Gumbel, minyak esensial akan masuk ke sirkulasi tubuh. Minyak esensial yang dioles di kulit akan terserap masuk ke lapisan kulit dalam, mencapai sirkulasi darah dan menuju organ sasaran untuk berefek, seperti praktek Spa Bali.

Aromaterapi dan khasiatnya
1. Chammomile, yang merupakan salah satu baik bagi yang memiliki masalah insomia atau sulit tidur, efeknya dapat mengurangi rasa lelah yang berkepanjangan.

2. Lemon, membantu menyembuhkan kulit yang gampang teriritasi. Selain itu lemon juga dapat membantu kamu untuk memperlancar peredaran darah bila kamu gunakan essential oil untuk pemijitan.

3. Jasmine, bagi kamu yang sering terserang stress, kamu dapat menggunakan aroma melati memiliki wangi yang lembut yang baik untuk menenangkan pikiran, mencegah rasa lelah kamu dan juga menenangkan diri kamu saat menghadapi PMS (pre menstruasi syndrome).

4. Cengkeh, saat stamina kamu sedang drop, coba kamu gunakan aroma cengkeh untuk menghangatkan tubuh kamu.

5. Sandalwood, aroma sandalwood memang selalu jadi andalan untuk membangkitkan gairah kamu. gunakan juga campuran ylang-ylang dan vanilla sebagai campuran untuk membangkitkan gairah kamu untuk melakukan hubungan seks. Psstt, Sarah Jessica Parker dan Madonna sering menggunakan ramuan ini agar lebih hot bagi pasangannya.

6. Ambre, untuk membantu kamu menenangkan pikiran, mencegah penuaan dini, dan juga memperbaiki sirkulasi darah, menghilangkan bintik hitam dan kerutan di wajah. Coba kamu campurkan essensial oil Ambre dalam masker yang biasa kamu gunakan agar kamu mendapat sensasi dobelnya.

7. Bois de santal, dipercaya dapat merangsang gairah kamu dan juga dapat mengurangi stress atau rasa gelisah.

8. Canelle, cocok buat kamu yang sedang merasa lelah dan depresi berat. Selain itu, Canelle juga dapat memperbaiki sirkulasi darah, mengurangi kejang otot serta mengurangi rasa sakit. Cocok buat kamu yang sering merasa sakit di persendian dan perut kembung.

9. Eucalyptus, berguna untuk membersihkan, menyegarkan dan mengatasi hidung tersumbat. Eucalyptus juga dapat berfungsi sebagai antiseptic dan anti virus. Eucalypus juga berfungsi mengatasi masalah asma, sinus, infeksi saluran pernafasan dan bronchitis, serta demam dan flu.

10. Lavander, Essensial oil ini berguna untuk mengurangi perasaan cemas dan gelisah, menyeimbangkan tekanan darah tinggi, anti depresi, menghilangkan rasa sesak atau hidung tersumbat, insomia, jerawat dan eksim.

11. Cedre du liban, Merangsang gairah, meredakan ketegangan, rasa gugup dan stress, meredakan radang tenggorokan dan batuk, membantu masalah kulit berminyak, jerawat, ketombe dan rambut rontok